Avatar 3 Dapat 1 Bintang dari BBC, Disney Pertaruhkan Rp6,4 Triliun di Saga Ini

Disney dan sutradara James Cameron kini tengah menghadapi pertaruhan finansial masif melalui perilisan Avatar: Fire and Ash.
Meski diproduksi dengan biaya fantastis mencapai 400 juta dolar AS atau sekitar Rp6,4 triliun, film ketiga dari saga Pandora ini justru mendapat sambutan dingin dari kritikus internasional di tengah target break-even point yang sangat tinggi.
Risiko Finansial dan Target Break-Even Disney
Disney memproyeksikan Fire and Ash harus meraup setidaknya 800 juta hingga 1 miliar dolar AS hanya untuk mencapai titik impas, mengingat beban biaya pemasaran global yang belum termasuk dalam anggaran produksi. Angka ini menjadi tantangan berat meski pendahulunya, Avatar: The Way of Water (2022), sukses besar dengan pendapatan menembus 2,32 miliar dolar AS secara global.
Para investor kini mencermati apakah loyalitas penonton masih cukup kuat untuk mempertahankan margin keuntungan Disney. Risiko kejenuhan pasar membayangi, terutama karena durasi film yang mencapai 197 menit dan kritik mengenai repetisi alur cerita yang mulai bermunculan dari berbagai media besar.
Kritik Tajam: BBC Beri Rating Satu Bintang
Di tengah ambisi komersialnya, film ini justru menuai kritik pedas. Situs berita Inggris, BBC, merilis ulasan berjudul “Avatar: Fire and Ash Review: The Latest in the Sci-fi Adventure Series Is the Longest and Worst Yet” dan hanya memberikan satu dari lima bintang.
Penilaian ini jauh di bawah ekspektasi pasar untuk sebuah film blockbuster dengan anggaran terbesar keenam dalam sejarah sinema.
James Cameron sendiri menyadari pergeseran dinamika karakter dalam film ini, terutama pada sosok Jake Sully.
“Bagi Jake yang baru kehilangan anak, sikap protektifnya hadir dalam peran sebagai sebagai ayah dengan sifat nyaris otoriter,” katanya.
Fokus narasi kali ini memang lebih menekankan pada duka keluarga Sully pasca-kematian Neteyam dan ancaman dari klan Mangkwan atau Ash People yang dipimpin oleh Varang (Oona Chaplin).
Eksplorasi Konflik Identitas dan Humanisme
Aktor utama Sam Worthington mengungkapkan bahwa sisi emosional film ini menjadi tumpuan utama di balik kecanggihan visualnya.
“Kekecewaannya, tekanan dunia luar, dan desakan dari klan lain untuk bersatu demi kebaikan, menjadi fokus yang kami eksplorasi,” ucap Worthington dalam keterangan resminya.
Meskipun menghadapi kritik tajam terkait orisinalitas cerita, Avatar: Fire and Ash tetap mengandalkan teknologi High Frame Rate (HFR) dan visual 3D yang imersif untuk menarik minat penonton ke bioskop. Keberhasilan atau kegagalan film ini akan menjadi penentu krusial bagi kelanjutan dua sekuel Avatar berikutnya yang telah direncanakan oleh Disney.