Manga

Bedah Teori One Piece: Tiga Petunjuk Kuat Shanks Tak Pernah Berambisi Menjadi Raja Bajak Laut

Dalam semesta One Piece, gelar Raja Bajak Laut merupakan puncak pencapaian yang dikejar oleh hampir semua bajak laut besar. Namun, sosok Akagami no Shanks, yang kini mulai bergerak menuju Laugh Tale, justru menunjukkan indikasi kuat bahwa ia tidak pernah benar-benar menginginkan takhta tersebut. Meski memiliki kekuatan dan pengaruh besar sebagai Yonko, ambisi Shanks tampaknya berada di arah yang berbeda dari ekspektasi dunia.

1. Mimpi Sederhana Berlayar Bersama Buggy

Petunjuk pertama muncul dalam kilas balik di bab 1152 yang berlatar 14 tahun lalu di Elbaph. Saat itu, Shanks berbincang dengan kru legendaris Roger, Scopper Gaban. Gaban bertanya mengenai perasaan Shanks setelah sepuluh tahun kematian sang kapten, “Sudah selama itu? Pasti rasanya sudah lama sekali untukmu,” kata Gaban.

Jawaban Shanks mengungkap sisi lain dari ambisinya yang selama ini tersembunyi. Ia mengaku, “Ya. Hidupku sudah berubah total. Rencanaku tadinya bergabung dengan Buggy dan hidup tenang sebagai bajak laut. Tapi bahkan di sini, di Elbaph, masih ada banyak hal yang harus kupelajari.” Pengakuan ini menunjukkan bahwa sejak awal, Shanks hanya ingin menikmati kebebasan di lautan bersama sahabatnya, bukan menduduki takhta tertinggi.

2. Menganggap Ace Sebagai Pewaris Takhta Roger

Petunjuk kedua terlihat pada bab 1169, ketika Shanks berbincang kembali dengan Gaban mengenai putra kandung Gol D. Roger, Portgas D. Ace. Begitu mendengar keberadaan Ace, Shanks secara otomatis berasumsi bahwa anak itulah yang akan menjadi Raja Bajak Laut generasi berikutnya, bukan dirinya sendiri.

Pandangan ini sempat disanggah oleh Gaban yang memperingatkan bahwa gelar tersebut bukanlah warisan biologis. Gaban berujar, “Hei itu bukan posisi turun temurun. Kadang orang yang diberi ekspektasi besar malah akan gagal mencapai kejayaan itu.” Pernyataan Gaban ini seolah menjadi ramalan tragis bagi nasib Ace, sekaligus menegaskan bahwa Shanks tidak pernah memandang dirinya sebagai pesaing dalam perebutan gelar tersebut.

3. Keengganan Mengklaim Gelar Secara Simbolis

Perbedaan mencolok terlihat dari cara Shanks berkomunikasi mengenai tujuannya. Saat memutuskan untuk bergerak setelah peristiwa di Wano, Shanks tidak menyatakan ingin menjadi raja. Ia hanya berkata kepada Benn Beckman, “Mari kita ambil One Piece.”

Diksi ini sangat berbeda dengan Buggy yang secara lantang berteriak di bab 1082, “…kalau begitu aku ingin menjadi Raja Bajak Laut!” atau Luffy yang selalu menegaskan mimpinya. Shanks lebih fokus pada objek atau langkah pragmatis daripada gelar simbolis. Bahkan saat Luffy kecil menyatakan ambisinya, Shanks hanya merespons dengan tenang, “Hmm… jadi kamu akan menjadi lebih hebat dari kami, ya?”

Tragedi Kesalahpahaman Antara Shanks dan Buggy

Rangkaian petunjuk ini memperdalam aspek tragis dalam hubungan Shanks dan Buggy. Selama ini, Buggy merasa dikhianati karena ia mengubur mimpinya sendiri demi mendukung Shanks yang ia anggap paling pantas menjadi penerus Roger. Buggy pernah bereaksi keras dengan berkata, “Kalau begitu kamu harus mengalahkanku dulu,” atau “Tidak bisa, aku juga mengincar gelar itu,” sebagai bentuk provokasi agar Shanks mau bergerak.

Namun, kenyataan bahwa Shanks mungkin tidak pernah menginginkan gelar tersebut menciptakan jurang emosional yang dalam. Jika Buggy menyadari bahwa sosok yang ia jagokan justru tidak pernah berniat naik takhta, kekecewaannya mungkin akan semakin besar. Bagi Buggy, ini bukan sekadar soal persaingan, melainkan pengorbanan mimpi yang terasa sia-sia karena perbedaan cara pandang terhadap takdir dan warisan Roger.