Bukan Sekadar Horor, We Bury the Dead Sajikan Perjalanan Daisy Ridley Menembus Duka di Zona Zombie
We Bury the Dead hadir sebagai film zombie yang berani mengambil jalur sunyi di tengah hiruk-pikuk genre mayat hidup. Alih-alih menyuguhkan aksi bertahan hidup yang eksplosif atau kehancuran peradaban global, sutradara Zak Hilditch justru membawa penonton masuk ke dalam ruang-ruang duka yang menyesakkan di pesisir Tasmania.
Ekspektasi yang Terkecoh oleh Trailer
Bagi penonton yang mengharapkan ketegangan konstan ala film zombie modern, We Bury the Dead mungkin akan terasa mengejutkan. Cuplikan resminya sempat memberi kesan film ini sarat akan konfrontasi fisik, dengan visual Ava (Daisy Ridley) yang membawa kapak di tengah kepungan mayat hidup. Namun, kenyataannya jauh berbeda.
Film ini lebih banyak menghabiskan durasinya untuk mengikuti pergulatan batin Ava Newman. Sebagai sukarelawan di zona bencana, ia tidak datang untuk membasmi zombie, melainkan untuk membereskan sisa-sisa tragedi sambil mencari suaminya, Mitch. Perbedaan antara promosi dan isi film ini disinyalir menjadi penyebab timpangnya skor di Rotten Tomatoes, di mana kritikus memberi 84% sementara audiens hanya 46%.
Seorang penonton bernama Andrew memberikan ulasan yang cukup tajam di platform tersebut: “Menurut saya, ini bukan film zombie. Saya merasa aspek zombie bisa dihilangkan sepenuhnya tanpa dampak signifikan pada keseluruhan cerita. Minim adegan aksi. Akhir cerita yang dipertanyakan. Bukan film terburuk yang pernah saya tonton, dan sebenarnya ada satu aspek zombie yang menurut saya menyeramkan, tetapi sinopsisnya tampak seperti contoh pemasaran yang buruk.”
Sinopsis: Tragedi di Jantung Tasmania
Cerita bermula ketika Amerika Serikat secara tidak sengaja meledakkan senjata eksperimental di lepas pantai timur Tasmania. Ledakan ini meluluhlantakkan kota Hobart dan menyebabkan fenomena mati otak massal pada manusia maupun hewan. Tasmania pun berubah menjadi zona terlarang yang diawasi ketat oleh militer Australia.
Kekacauan memuncak saat para korban mati otak mulai bangkit kembali dengan fungsi motorik yang terbatas. Di tengah operasi evakuasi jenazah, Ava bergabung sebagai relawan dengan misi rahasia pribadi: menemukan Mitch yang berada di pusat lokasi bencana, jauh di luar batas aman yang ditetapkan militer.
Performa Emosional Daisy Ridley
Daisy Ridley sukses menjadi jangkar emosional dalam film ini. Perannya sebagai Ava menuntut kemampuan akting subtil karena karakternya cenderung pendiam dan tertutup. Ridley harus menyampaikan rasa bersalah dan penyesalan lewat ekspresi wajah dan bahasa tubuh, terutama dalam adegan-adegan sunyi tanpa dialog.
Ava tidak digambarkan sebagai pahlawan yang tangguh, melainkan perempuan yang berada di ambang kehancuran. Emosinya yang meledak saat sendirian memberikan kedalaman pada narasi yang lambat. Tanpa performa Ridley yang kuat, film ini berisiko terasa hampa.
Pendekatan Berbeda dalam Genre Zombie
Ada beberapa poin menarik yang membuat We Bury the Dead terasa segar dibandingkan formula zombie pada umumnya:
- Dunia yang Tetap Berjalan: Tidak ada keruntuhan peradaban global. Militer dan pemerintah tetap berfungsi secara efisien dan terorganisir.
- Zombie sebagai Konsekuensi: Mayat hidup di sini lebih terasa sebagai sosok tragis akibat bencana ketimbang ancaman predator yang agresif.
- Latar Tempat yang Unik: Penggunaan wilayah timur Pulau Tasmania memberikan lanskap yang indah namun menghantui dengan keheningannya.
Ketegangan dalam film ini tidak lahir dari serangan mendadak, melainkan dari keputusan sadar Ava untuk keluar dari sistem keamanan demi mencari kepastian tentang suaminya.
Kesimpulan dan Detail Produksi
We Bury the Dead adalah drama kontemplatif yang menggunakan zombie sebagai latar belakang untuk mengeksplorasi ketidakpastian dan kehilangan. Film ini mendapatkan nilai 4 dari 5 bintang bagi mereka yang bisa menikmati alur lambat dan fokus pada karakter.
| Produser | Kelvin Munro, Grant Sputore, Ross Dinerstein |
| Penulis & Sutradara | Zak Hilditch |
| Pemeran Utama | Daisy Ridley, Mark Coles Smith, Brenton Thwaites |
| Durasi | 95 Menit |
| Tanggal Rilis | 9 Januari 2026 |
Bagi penonton yang mencari aksi gore atau intensitas tanpa henti, film ini mungkin akan mengecewakan. Namun, bagi pencinta cerita yang mendalam, karya Zak Hilditch ini menawarkan perspektif baru tentang bagaimana manusia bertahan hidup secara emosional di tengah bencana besar.