Hiburan

Bukan Sekadar Perang Fisik, Avatar 3 Fire and Ash Soroti Sisi Gelap Jake Sully dan Retaknya Iman Na’vi

Selama dua dekade terakhir, narasi besar James Cameron tentang Pandora selalu berkutat pada dikotomi sederhana: eksploitasi manusia melawan kesucian alam.

Namun, lewat Avatar: Fire and Ash, sutradara peraih Oscar tersebut menggeser poros konfliknya ke arah yang lebih gelap dan personal.

Ancaman terbesar bagi keberlangsungan bangsa Na’vi bukan lagi sekadar peluru atau ekskavator raksasa milik Bangsa Langit, melainkan keretakan internal yang lahir dari dendam dan nihilisme spiritual.

Pusat dari guncangan sosiologis ini adalah klan Mangkwan, atau yang dikenal sebagai Ash People (Orang-Orang Abu). Kehadiran mereka menghancurkan stigma bahwa seluruh Na’vi adalah pelindung Eywa yang damai.

Mangkwan muncul sebagai manifestasi dari apa yang terjadi ketika sebuah masyarakat mengalami trauma kolektif yang dahsyat namun merasa ditinggalkan oleh dewa yang mereka sembah.

Tragedi Gunung Berapi dan Runtuhnya Iman kepada Eywa

Klan Mangkwan bukanlah antagonis yang muncul tanpa alasan. Mereka adalah korban dari bencana geologis masif di wilayah gunung berapi Pandora.

Ketika pemukiman mereka binasa dilanda letusan yang meluluhlantakkan segalanya, sebuah pergeseran ideologi terjadi. Dalam pandangan Mangkwan, Eywa sang dewi yang diagungkan sebagai pemberi kehidupan justru absen saat mereka sangat membutuhkan perlindungan.

Secara psikologis, fenomena ini menyerupai nihilisme reaktif. Ketika sistem kepercayaan tradisional gagal memberikan jawaban atau solusi atas penderitaan yang ekstrem, individu atau kelompok cenderung melakukan dekonstruksi terhadap nilai-nilai lama.

Varang, pemimpin klan Mangkwan yang diperankan oleh Oona Chaplin, menjadi representasi dari kemurkaan tersebut. Ia bukan sekadar pejuang yang sadis; ia adalah seorang penyintas yang menganggap spiritualitas sebagai kelemahan.

Berbeda dengan Neytiri yang tetap setia memuja Eywa meski dalam duka paling dalam, Varang justru menentang kebesaran dewi alam tersebut.

Baginya, api bukan hanya elemen alam, melainkan alat untuk menghanguskan ketidakadilan yang mereka rasakan. Ketidakhadiran Eywa dalam ingatan traumatis Mangkwan melahirkan sebuah radikalisme baru: jika alam bisa menghancurkan kami tanpa belas kasihan, maka kami berhak menghancurkan apa pun yang ada di hadapan kami.

Varang: Antagonis yang Lahir dari Luka

Dalam kacamata sosiologi, klan Mangkwan dapat dibandingkan dengan kelompok-kelompok radikal di dunia nyata yang lahir dari kegagalan negara atau institusi sosial dalam menangani bencana atau penindasan.

Ketika perlindungan yang dijanjikan hilang, ruang kosong tersebut diisi oleh figur karismatik yang menawarkan kekuatan melalui kekerasan. Varang mengisi ruang itu dengan otoritas yang absolut dan kebrutalan yang terukur.

Varang digambarkan sebagai perempuan yang sadis, namun tindakannya memiliki logika internal yang kuat.

Ia memburu korban-korbannya, bahkan hingga ke rawa-rawa dan belantara, sebagai bentuk kompensasi atas rasa tidak berdaya yang pernah dialami kaumnya. Kekerasan yang dilakukan Mangkwan terhadap sesama Na’vi menunjukkan bahwa solidaritas rasial telah kalah oleh trauma sejarah mereka sendiri.

James Cameron secara cerdas menggunakan klan ini untuk menunjukkan sisi gelap kemanusiaan yang dalam hal ini direfleksikan oleh Na’vi.

Jika klan Omatikaya adalah spiritualitas dan Metkayina adalah harmoni, maka Mangkwan adalah ego yang terluka. Mereka tak lagi peduli pada keseimbangan alam; mereka hanya peduli pada eksistensi melalui dominasi.

Duka Keluarga Sully dalam Kepungan Api

Di tengah ancaman sosiologis ini, keluarga Jake Sully sedang berada pada titik terendah mereka.

Kematian Neteyam menyisakan lubang besar yang mengubah dinamika internal mereka. Lo’ak, sang putra kedua, memberikan observasi tajam mengenai cara orang tuanya memproses duka yang sangat kontradiktif.

“Ibuku berduka dengan jalan Na’vi, ayahku dengan jalan manusia,” ucap Lo’ak.

Pernyataan ini menggarisbawahi identitas Jake Sully yang tetaplah seorang manusia meski telah lama mengenakan kulit Na’vi. Dalam menghadapi ancaman Mangkwan dan kembalinya Kolonel Miles Quaritch, Jake cenderung kembali ke insting militernya yang defensif dan protektif secara berlebihan. Cameron sendiri menyoroti perubahan karakter Jake yang menjadi lebih keras.

“Bagi Jake yang baru kehilangan anak, sikap protektifnya hadir dalam peran sebagai sebagai ayah dengan sifat nyaris otoriter,” kata Cameron.

Konflik batin Jake ini menjadi celah yang dimanfaatkan oleh musuh-musuhnya. Sam Worthington, pemeran Jake Sully, mengungkapkan bahwa fokus film ketiga ini memang mengeksplorasi tekanan mental yang dihadapi sang tokoh utama.

“Kekecewaannya, tekanan dunia luar, dan desakan dari klan lain untuk bersatu demi kebaikan, menjadi fokus yang kami eksplorasi,” ucap Worthington.

Ritual Psikedelik dan Metode Kamikaze

Kekhasan klan Mangkwan juga terlihat dari budaya mereka yang jauh dari kesan sakral tradisional Na’vi. Mereka memiliki ritual tari-tarian beraroma psikedelik yang menjadi cara mereka berpesta di tengah lahan tandus penuh abu. Ini adalah bentuk eskapisme dari lingkungan mereka yang keras. Tidak ada doa syukur kepada Eywa, yang ada hanyalah perayaan atas kekuatan diri sendiri.

Dalam pertempuran, Mangkwan menerapkan metode ala kamikaze yang mengerikan. Prajurit mereka tak segan membakar tubuh sendiri sebelum menabrakkan diri ke arah lawan. Ini adalah tingkat radikalisme tertinggi, di mana nyawa individu dianggap murah demi tujuan kelompok.

Penggunaan senjata api yang dipasok oleh RDA (Resources Development Administration) melalui Quaritch semakin mempertegas posisi Mangkwan sebagai pengkhianat ekologis di Pandora.

Kerja sama antara manusia (RDA) dan klan Mangkwan adalah aliansi yang sangat oportunistik. Manusia membutuhkan pengetahuan lokal Mangkwan untuk memburu keluarga Sully, sementara Mangkwan membutuhkan teknologi manusia untuk memperkuat dominasi mereka atas klan-klan Na’vi lainnya.

Refleksi Kehancuran Ekologis dan Sosial

Meski berdurasi hingga 197 menit, Avatar: Fire and Ash tetap menyisipkan pesan humanisme yang kuat di balik visualisasi peperangannya. Kehadiran alat berat manusia seperti buldoser dan ekskavator yang mengoyak rimba disandingkan dengan kebrutalan Mangkwan yang menghanguskan hutan. Keduanya adalah dua sisi mata uang yang sama: kehancuran yang lahir dari pengabaian terhadap harmoni alam.

Mangkwan adalah peringatan dari Cameron bahwa bahkan masyarakat yang paling spiritual sekalipun bisa jatuh ke dalam lembah kegelapan jika mereka membiarkan duka berubah menjadi kebencian kolektif. Pandora kini bukan lagi negeri dongeng yang murni. Ia adalah dunia yang retak, di mana “Bangsa Langit” bukan satu-satunya ancaman, melainkan saudara sendiri yang telah kehilangan arah.

Data Produksi dan Jadwal Tayang

Avatar: Fire and Ash menghadirkan jajaran pemain papan atas dan teknologi sinematografi mutakhir yang memperdalam pengalaman penonton:

  • Durasi: 197 Menit (3 Jam 17 Menit)
  • Sutradara: James Cameron
  • Pemeran Utama: Sam Worthington, Zoe Saldana, Sigourney Weaver, Stephen Lang, Oona Chaplin.
  • Tanggal Rilis: 17 Desember 2025 di Bioskop Indonesia.
  • Format Visual: Mendukung 3D dan High Frame Rate (HFR) hingga 40% durasi film.

Dengan visual yang semakin megah meski beberapa kritikus seperti dari BBC menyebutnya sebagai narasi yang mulai repetitif Fire and Ash tetap menjadi spektakel emosional. Penonton tidak hanya diajak melihat ledakan dan pertarungan udara, tetapi juga dipaksa menyaksikan bagaimana sebuah peradaban bisa hancur dari dalam ketika api kemarahan lebih besar daripada keinginan untuk saling memaafkan.