Hiburan

Cak Lontong Kenang Momen Nyaris Jadi Korban Hipnotis Saat Bawa Honor Rp 14 Juta: “Uange Tak Pegangi”

Komedian sekaligus presenter ternama, Cak Lontong, membagikan pengalaman mendebarkan saat dirinya nyaris menjadi korban kejahatan hipnotis pada tahun 1994 silam. Pria bernama asli Lies Hartono ini menceritakan bagaimana ia hampir kehilangan uang honor sebesar Rp 14 juta yang baru saja dicairkannya dari bank.

Kejadian tersebut bermula ketika Cak Lontong, yang saat itu bertugas sebagai bendahara grup lawaknya, harus mencairkan honor dalam bentuk cek. “Tahun 1994, waktu ngisi acara komedi, bayarannya pakai cek. Jadi sebulan, ceknya keluar,” ungkap Cak Lontong saat menjadi bintang tamu dalam program OTW.

Kronologi Kejadian di Angkutan Umum

Cak Lontong menjelaskan bahwa ia pergi sendirian ke sebuah bank di kawasan Jakarta Barat sementara rekan-rekannya menunggu di kontrakan. Karena keterbatasan biaya, ia memilih menggunakan transportasi umum untuk membawa uang tunai yang nilainya cukup besar pada masa itu.

“Naik bis kota, dulu naik taksi aja mikir. Lumayan bawa uangnya waktu itu ya Rp 14 jutaan,” ujarnya mengenang masa sulit tersebut. Namun, di tengah perjalanan, ia mulai merasa ada seseorang yang mengintai gerak-geriknya sejak berada di dalam bus kota.

Merasa tidak nyaman, Cak Lontong memutuskan untuk berpindah kendaraan ke mikrolet. Namun, kecurigaannya semakin kuat ketika orang yang sama ternyata juga ikut berpindah kendaraan. “Di perjalanan, di bis kota, udah ada yang deketin. Aku oper ke mikrolet,” ungkapnya. “Duduk samping-sampingan, orang itu kok ada lagi,” imbuhnya.

Modus Penipuan dan Kewaspadaan

Untuk memastikan kecurigaannya, Cak Lontong memilih turun di tengah jalan sebelum sampai ke tujuan. Benar saja, orang tersebut ikut turun dan mencoba memulai percakapan dengan modus menanyakan alamat. “Ternyata dia turun juga. Dia turun nanya alamat ke aku,” ucap Cak Lontong.

Situasi semakin mencurigakan ketika muncul pria kedua yang tiba-tiba ikut campur dalam percakapan tersebut. Cak Lontong menceritakan bagaimana komplotan itu mulai beraksi dengan skenario yang telah disiapkan.

“Masalahnya, itu nanya alamat Jakarta, aku orang Surabaya, enggak tahu juga sebenarnya,” lanjutnya. “Begitu dia tanya, ada orang berjalan dari sisi lain, tiba-tiba nyapa. ‘Loh bapak ini yang tadi mau jual burung itu ya?'”

Sadar bahwa dirinya sedang diincar oleh komplotan penipu, Cak Lontong segera memperketat penjagaan pada tasnya. Ia teringat akan nasib teman-temannya yang sangat bergantung pada uang honor tersebut untuk menyambung hidup.

“Aku udah mulai curiga. Wah ini nyawa temen-temen, kasihan. Ini kalau saya enggak pulang, enggak makan mereka,” tegasnya. “Uange tak pegangi langsung. Semakin aneh ngomongnya, udah saya tinggal aja pergi,” ungkapnya lagi.

Setelah menjauh sekitar sepuluh langkah, ia menoleh ke belakang dan melihat kedua pria tadi berjalan bersama, mengonfirmasi bahwa mereka memang satu komplotan. Beruntung, kewaspadaannya membuahkan hasil. “Ada 10 langkah saya noleh, eh jalan bareng (mereka), ternyata komplotan,” kata Cak Lontong. “Ini selamat duitnya,” pungkasnya.