Hiburan

Dari Penyiar Radio hingga Sutradara Film: Jejak Karier Gemilang Pandji Pragiwaksono, Pelopor Stand-up Comedy Indonesia

Nama Pandji Pragiwaksono tentu sudah tak asing lagi di kancah hiburan Tanah Air. Dikenal luas sebagai salah satu pelawak tunggal papan atas, Pandji memiliki rekam jejak karier yang panjang dan multidimensional, mulai dari penyiar radio, aktor, hingga sutradara film. Pria kelahiran Singapura, 18 Juni 1979, ini merupakan sosok multitalenta yang tak hanya menghibur, tetapi juga turut membidani perkembangan industri komedi tunggal di Indonesia.

Pandji Pragiwaksono Wongsoyudo memiliki latar belakang keluarga yang unik dengan darah campuran Jawa dan Sumatera. Ayahnya, Koes Pratomo Wongsoyudo, dikenal sebagai pendiri Institut Karate-Do Indonesia (INKAI). Pandji menempuh pendidikan menengah di Kolese Gonzaga, Jakarta, sebelum melanjutkan studi di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB).

Awal Mula Karier dan Terjun ke Dunia Hiburan

Perjalanan karier Pandji dimulai sebagai penyiar radio di Hard Rock FM Bandung. Setelah itu, ia hijrah ke Jakarta dan namanya mulai dikenal luas publik saat menjadi presenter acara realitas populer “Kena Deh” yang tayang di Trans7.

Titik balik penting dalam kariernya adalah ketika ia merintis dunia pelawak tunggal pada tahun 2010 dengan menggagas acara “Twivate Concert”. Bersama Raditya Dika, Pandji juga menjadi salah satu inisiator lahirnya kompetisi Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) di Kompas TV, sebuah ajang yang kemudian melahirkan banyak komika berbakat. Di SUCI, ia sempat berperan sebagai pembawa acara dan kemudian didapuk menjadi juri.

Komika Lintas Benua dan Karya Multidisiplin

Pandji Pragiwaksono mencatatkan sejarah sebagai pelawak tunggal Indonesia pertama yang sukses menggelar tur dunia. Beberapa tur spesialnya yang meraih sukses besar antara lain “Mesakke Bangsaku”, “Juru Bicara”, “Pragiwaksono”, dan “Komoidoumenoi”. Tur-tur ini tak hanya memperkuat posisinya di industri komedi, tetapi juga membawa namanya dikenal di kancah internasional.

Selain komedi, Pandji juga menunjukkan minatnya di bidang musik dengan merilis sejumlah album rap, seperti “Provocative Proactive” (2008) dan “Merdesa” (2010). Di dunia seni peran, ia telah membintangi puluhan judul film populer, di antaranya “Comic 8”, “Rudy Habibie”, dan “Ayat-Ayat Cinta 2”. Tak hanya berakting, Pandji juga menjajal kursi sutradara untuk film “Partikelir” (2018) dan “Mendarat Darurat” (2022).

Dedikasi Sosial Melalui Yayasan Pita Kuning

Di luar gemerlap panggung hiburan, Pandji juga aktif di bidang sosial. Pada tahun 2007, ia mendirikan Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia, sebuah yayasan yang berfokus pada pendampingan dan dukungan bagi anak-anak penderita kanker. Aktivitas sosial ini menunjukkan sisi lain dari Pandji yang peduli terhadap sesama.