Manga

Di Balik Label ‘Jahat’: Membedah Sisi Pragmatis Vegapunk Lilith di One Piece

Dalam semesta One Piece, Vegapunk Lilith diperkenalkan sebagai satelit yang mewakili aspek “Evil” atau kejahatan dari ilmuwan jenius Vegapunk. Namun, jika menilik lebih dalam pada tindakannya sepanjang cerita, label “jahat” yang melekat padanya terasa janggal dan memerlukan interpretasi lebih lanjut.

Lilith memang memiliki sifat sinis dan terkadang manipulatif, jauh dari kesan polos atau baik hati. Kendati demikian, ia tidak pernah terbukti berkhianat atau menjual Vegapunk kepada Pemerintah Dunia. Sebaliknya, ia justru ikut berjuang hingga akhir, melindungi warisan sang profesor.

Perilaku ini kontras dengan York, satelit yang mewakili “Greed” atau keserakahan, yang justru sepenuhnya tenggelam dalam sisi terburuknya. York mengkhianati rekan-rekannya demi kenyamanan, status, dan ambisi hidup abadi di bawah naungan Pemerintah Dunia. Perbedaan mencolok ini memunculkan pertanyaan menarik: apakah Lilith benar-benar “jahat” seperti yang disematkan padanya?

Interpretasi Sifat “Jahat” Lilith: Pragmatisme Dingin

Penting untuk memahami bahwa Lilith bukanlah personifikasi kejahatan manusia secara umum, melainkan representasi dari “kejahatan” versi Vegapunk sendiri. Dari apa yang terlihat, “kejahatan” Vegapunk bukanlah kekejaman, sadisme, atau hasrat untuk menghancurkan orang lain.

Kejahatan terbesarnya justru terletak pada pragmatisme dingin, kemampuan untuk menutup mata, menghitung untung-rugi, dan memilih untuk bertahan hidup meskipun itu berarti berkompromi dengan situasi yang tidak ideal. Lilith mewarisi sisi ini dengan sangat jelas.

  • Pragmatis: Lilith tidak ragu merampok bajak laut demi mendapatkan pendanaan yang dibutuhkan.
  • Oportunis: Ia sempat mempertimbangkan untuk menyerahkan Bajak Laut Topi Jerami kepada CP0 jika hal itu menguntungkan posisinya, meskipun pada akhirnya tidak ia lakukan.
  • Tidak suka dikendalikan: Lilith menunjukkan ketidaksukaan yang kuat terhadap perintah, bahkan dari sesama satelit seperti Shaka.

Dengan demikian, jika Lilith disebut “jahat”, itu bukan karena ia kejam, melainkan karena ia mewakili insting bertahan hidup Vegapunk. Sisi ini bersedia mengambil keputusan “kotor” demi kelangsungan hidup dan kelanjutan riset. Di dunia One Piece yang brutal, jenis “kejahatan” semacam ini mungkin adalah yang paling realistis.

Pengaruh Pemisahan Aspek Greed pada Lilith

Sebuah potongan informasi dari SBS volume 113 oleh Eiichiro Oda memberikan pemahaman krusial mengenai hal ini. Menjawab pertanyaan penggemar tentang York yang ingin menjadi Naga Langit, Oda menjelaskan bahwa hasrat untuk memiliki segalanya, termasuk hal yang menjijikkan seperti menjadi Naga Langit, adalah bagian dari sifat manusia.

Oda menegaskan bahwa semua manusia menyimpan keserakahan besar dalam diri mereka, dan manusia baru benar-benar “menjadi manusia” ketika mereka memiliki alasan untuk menahan keinginan tersebut. Dalam konteks Vegapunk, “alasan” penahan itu diwakili oleh Shaka (Good), sementara Greed berdiri sendiri sebagai York.

Ini berarti Vegapunk asli memang memiliki benih keserakahan, termasuk hasrat absurd untuk berada di posisi tertinggi dunia. Namun, dalam dirinya yang utuh, hasrat itu ditahan dan dikendalikan oleh aspek-aspek lain seperti moral, logika, empati, dan rasa tanggung jawab.

Masalah muncul setelah pemisahan. York, sebagai Greed murni tanpa penyeimbang, berkembang secara liar. Wajar jika ia ingin menjadi Tenryuubito, mengkhianati seluruh satelit lain, dan rela menjual dunia demi kenyamanan serta status. Di dalam dirinya, aspek yang menahan Vegapunk asli tidak ada.

Di sinilah posisi Lilith menjadi menarik. Karena aspek Greed dipisahkan dan ditumpahkan sepenuhnya ke York, “kejahatan” Lilith tidak berkembang menjadi kerakusan ekstrem. Lilith tidak menginginkan kekuasaan absolut, tidak ingin menjadi Naga Langit, dan tidak mau mengorbankan segalanya demi posisi aman.

Kejahatannya berhenti pada level pragmatis dan oportunisme kecil demi bertahan hidup. Justru karena aspek Greed tidak ditumpahkan ke Lilith, ia terasa lebih “murni” dibandingkan jika seluruh sisi negatif Vegapunk dilebur menjadi satu. Dengan kata lain, Lilith tidak jahat karena kurang empati; ia “jahat” karena masih manusiawi. Hal ini membuatnya jauh lebih simpatik dibanding York dan lebih masuk akal dibanding stereotip “klon jahat” pada umumnya.

Kesimpulan: Kejahatan Lilith adalah Kompromi Moral

Kembali ke pertanyaan utama: apakah Lilith itu jahat? Jawabannya adalah iya, namun dengan konteks yang sangat penting. Lilith adalah aspek “evil” dari Vegapunk, sosok yang pada dasarnya bukan orang jahat. Oleh karena itu, kejahatan Lilith bukanlah kekejaman, sadisme, atau ambisi absolut.

Kejahatannya lebih berupa pragmatisme dingin, jenis “kejahatan” yang sering muncul ketika seseorang harus memilih untuk bertahan di dunia yang rusak. Benih ini sudah terlihat pada Vegapunk asli:

  • Ia menolak bergabung dengan Monkey D. Dragon bukan karena tidak peduli pada kebebasan, melainkan karena Dragon tidak memiliki dana.
  • Ia menutup mata pada banyak hal buruk karena merasa “tidak ada pilihan lain”.

Itulah jenis “kejahatan” yang diwarisi Lilith: bukan kebencian atau kerakusan, melainkan kompromi moral. Di titik inilah pemisahan satelit Vegapunk menjadi krusial. Lilith tidak diberi aspek Greed; Greed dipisahkan dan dituangkan seluruhnya ke York.

Hasilnya, Lilith tetap bisa berempati, tidak tergoda menjadi Tenryuubito, dan tidak rela mengorbankan semua orang demi keselamatan diri sendiri. Sebaliknya, York, sebagai Greed murni tanpa penyeimbang, berkembang secara liar. Ia mengkhianati semua satelit lain demi hasrat menjadi Naga Langit, hasrat yang, menurut Oda sendiri, sebenarnya juga ada dalam diri Vegapunk asli, tetapi ditahan oleh nurani dan akal sehatnya.

Di sinilah ironi besarnya: Lilith yang diberi label “jahat” justru lebih manusiawi, sementara York yang hanya mewakili satu dorongan dasar manusia menjadi paling tidak manusiawi. Kesalahan terbesar Vegapunk mungkin bukan memiliki sisi gelap, melainkan memisahkan sisi-sisi itu menjadi individu yang tidak lagi saling mengendalikan. Lilith tidak jahat karena ia kejam; ia “jahat” karena mewarisi realitas dunia, sementara York adalah bukti apa yang terjadi ketika satu rasa tamak manusia dibiarkan berkuasa tanpa rem. Seperti biasa di One Piece, yang paling berbahaya bukanlah kejahatan terbuka, melainkan sifat manusia yang kehilangan keseimbangannya.