Hiburan

Dua Grup Musik Batalkan Pertunjukan di Kennedy Center, Protes Perubahan Nama Jadi Trump-Kennedy

Dua grup musik veteran, The Cookers dan Doug Varone and Dancers, resmi membatalkan pertunjukan mereka di Kennedy Center. Keputusan ini diambil menyusul langkah dewan pengelola yang memutuskan untuk mengganti nama institusi tersebut dengan menyertakan nama Presiden AS, Donald Trump.

The Cookers, grup jazz veteran, mengumumkan pembatalan dua pertunjukan Malam Tahun Baru mereka. Dalam sebuah pernyataan, grup tersebut tidak secara eksplisit menyebut Trump atau Kennedy Center, namun menyatakan keputusan itu “dibuat dengan sangat cepat”.

“Jazz lahir dari perjuangan dan dari desakan tanpa henti untuk kebebasan: kebebasan berpikir, kebebasan berekspresi, dan kebebasan bersuara sepenuhnya sebagai manusia,” demikian pernyataan The Cookers. Mereka menambahkan, “Kami tidak berpaling dari penonton kami, dan ingin memastikan bahwa ketika kami kembali ke panggung, ruangan tersebut mampu merayakan kehadiran penuh musik dan semua orang di dalamnya.”

Billy Hart, drummer The Cookers, mengonfirmasi kepada New York Times bahwa perubahan nama tersebut “jelas” berperan dalam keputusan pembatalan konser.

Sementara itu, grup lain, Doug Varone and Dancers, juga menyatakan tidak akan menampilkan dua pertunjukan yang dijadwalkan pada bulan April. Mereka menegaskan, “Kami tidak lagi mengizinkan diri kami sendiri maupun meminta penonton kami untuk memasuki institusi yang dulunya hebat ini,” terkait perubahan nama tersebut.

Menanggapi pembatalan ini, Richard Grenell, presiden Kennedy Center, menyebut tindakan tersebut sebagai “bentuk sindrom gangguan jiwa”. Ia mengklaim bahwa para artis yang membatalkan pertunjukan “telah dipesan oleh kepemimpinan sayap kiri ekstrem sebelumnya”.

“Tindakan mereka membuktikan bahwa tim sebelumnya lebih peduli untuk mengundang aktivis politik sayap kiri daripada seniman yang bersedia tampil untuk semua orang tanpa memandang keyakinan politik mereka,” tambah Grenell.

Sebelumnya, penyanyi folk Kristy Lee juga telah membatalkan pertunjukan bulan Januari-nya. Ia menyatakan di media sosial, “Ketika sejarah Amerika mulai diperlakukan seperti sesuatu yang bisa dilarang, dihapus, diganti namanya, atau diubah citranya demi ego orang lain, saya tidak bisa berdiri di panggung itu dan tidur nyenyak di malam hari.”

Pekan lalu, musisi Chuck Redd juga membatalkan penampilan malam Natalnya, yang telah ia selenggarakan setiap tahun sejak 2006, dengan alasan perubahan nama pusat tersebut. Grenell menuntut ganti rugi sebesar 1 juta dollar AS (sekitar Rp 16,6 miliar) dari Redd, menyebut pembatalan itu sebagai “aksi politik” yang “telah merugikan kami secara signifikan”.

Kontroversi Perubahan Nama Kennedy Center

Dewan pengawas Kennedy Center, yang diketuai oleh Trump dan sebagian besar anggotanya dipilih langsung oleh Trump, memutuskan untuk mengganti nama John F. Kennedy Center for the Performing Arts menjadi Trump-Kennedy Center pada tanggal 18 Desember. Papan nama di gedung yang dipasang keesokan harinya menunjukkan nama lengkapnya “The Donald J Trump and the John F Kennedy Memorial Center for the Performing Arts.”

Namun, keputusan ini menuai kritik karena undang-undang yang disahkan pada tahun 1964 untuk membangun gedung tersebut tidak memberikan wewenang kepada dewan untuk mengubah namanya. Kini, beberapa anggota parlemen dan pakar hukum AS berpendapat bahwa Kongres harus memberikan suara untuk menjadikan perubahan nama tersebut resmi, mengingat pusat tersebut dinamai berdasarkan undang-undang federal.

Respons Keluarga Kennedy

Beberapa anggota keluarga Presiden John F. Kennedy mengecam keras langkah perubahan nama tersebut. Pusat seni ini memang dinamai untuk mengenang mendiang Presiden Kennedy.

Joe Kennedy III, mantan anggota DPR dan keponakan buyut mendiang presiden, menegaskan bahwa tempat tersebut “adalah monumen hidup untuk presiden yang telah tiada dan dinamai Presiden Kennedy berdasarkan undang-undang federal”. Ia menambahkan, “Nama itu tidak mungkin diganti, sama seperti tidak mungkin seseorang mengganti nama Monumen Lincoln, apa pun yang dikatakan orang.”