Ketua RT: “Bunyi ‘Brak!’, Anak Diding Boneng Nyaris Tertimpa Reruntuhan Rumah Tua di Menteng”
Kediaman aktor senior Diding Boneng di kawasan Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, ambruk pada Selasa (30/12/2025) malam. Insiden ini terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama beberapa jam, diperparah kondisi bangunan yang telah berusia hampir satu abad. Anak Diding Boneng dilaporkan nyaris menjadi korban reruntuhan.
Giman, Ketua RT setempat, menjelaskan bahwa peristiwa bermula dari cuaca buruk yang melanda sejak sore hari. “Kebetulan pada saat itu sore hujan gede, pas belum asar sampai maghrib,” ujar Giman saat ditemui di lokasi kejadian.
Detik-detik Ambruknya Rumah dan Nyarisnya Anak Diding Boneng
Suara dentuman keras mengejutkan warga sekitar pukul 21.00 WIB. Saat itu, sebagian warga dan pengurus lingkungan sedang mengikuti pengajian di musala dekat lokasi. “Jam 9 lebihlah kurang lebih, bunyi tuh ‘brak!’. Kencang banget, kedengaran sampai musala,” kata Giman.
Bambang, adik Diding Boneng yang juga hadir dalam pengajian, segera bergegas pulang untuk memeriksa keadaan. Tak lama berselang, ia kembali dan melaporkan kepada Ketua RT bahwa rumahnya telah ambruk.
Kerusakan terparah menimpa bagian kamar tidur dan atap bangunan. Giman mengungkapkan bahwa runtuhnya atap nyaris memakan korban. “Kalau diceritakan sama Pak Boneng, anaknya tidur di sini. Hampir ketiban sama reruntuhan,” tuturnya sambil menunjuk puing-puing kamar.
Beruntung, sang anak berhasil selamat dan tidak mengalami cedera serius, meskipun posisi tidurnya sangat dekat dengan titik jatuhnya material bangunan.
Bangunan Berusia Hampir Satu Abad Jadi Pemicu
Selain faktor cuaca ekstrem, penyebab utama ambruknya rumah tersebut adalah usia bangunan yang sudah sangat tua. Struktur rumah diperkirakan telah berdiri sejak zaman sebelum kemerdekaan Indonesia. “Boneng itu lahir tahun 1950, ini rumah sudah ada duluan. Rumah kakeknya turun ke bapaknya, baru dia yang lanjutin. Perkiraan bisa 100 tahun ini rumah, belum merdeka sudah ada,” jelas Giman.
Kondisi kayu dan atap yang telah lapuk membuat bangunan tidak lagi mampu menahan beban, terutama saat diterpa guyuran hujan deras.
Respons Cepat Warga dan Bantuan Datang
Merespons insiden ini, pengurus RT dan RW setempat langsung bergerak cepat. Diding Boneng beserta keluarga besarnya yang berjumlah total 12 orang dari lima Kepala Keluarga (KK) sempat diungsikan ke Pos RW untuk sementara waktu.
Keesokan harinya, warga bergotong royong melakukan kerja bakti membersihkan puing-puing reruntuhan. Pihak RW juga telah mengumpulkan dana darurat dari kas lingkungan dan sumbangan warga sebesar Rp 7 juta untuk penanganan awal.
“Rencana kita bongkar semua sampai ke depan. Karena kalau enggak (dibongkar total), takutnya ada sisa yang ambruk lagi,” tutur Giman mengenai rencana renovasi total.
Bantuan juga dilaporkan telah tersalurkan dari Baznas Pusat dan Suku Dinas Sosial (Sudinsos) berupa matras serta paket sembako untuk keluarga yang terdampak.