Game

Kronologi Diskualifikasi Clair Obscur Expedition 33, Dari Nominasi Palsu hingga Pengakuan Penggunaan AI

Kemenangan besar Clair Obscur: Expedition 33 dalam ajang The Indie Game Awards (IGA) 2025 berakhir tragis. Hanya berselang dua hari setelah menyabet gelar bergengsi Game of the Year dan Debut Game, pihak penyelenggara resmi mencabut penghargaan tersebut.

Langkah drastis ini diambil setelah terungkapnya penggunaan kecerdasan buatan generatif (Gen-AI) dalam proses pengembangan gim, sebuah fakta yang sebelumnya sempat disangkal oleh pihak pengembang.

Kronologi Kebohongan di Balik Nominasi

Skandal ini bermula dari komitmen tertulis yang diajukan Sandfall Interactive saat pendaftaran nominasi. Pihak penyelenggara, Six One Indie, menegaskan bahwa integritas adalah syarat mutlak. Namun, pengakuan produser Sandfall, François Meurisse, dalam sebuah wawancara justru mengungkap fakta sebaliknya.

“The Indie Game Awards memiliki sikap keras terhadap penggunaan AI generatif selama proses nominasi dan selama upacara itu sendiri.

Saat diajukan untuk pertimbangan, perwakilan Sandfall Interactive menyetujui bahwa tidak ada AI generatif yang digunakan dalam pengembangan Clair Obscur: Expedition 33,” tulis pernyataan resmi IGA.

Ironisnya, di hari yang sama dengan penayangan perdana penghargaan tersebut, Meurisse mengonfirmasi penggunaan teknologi tersebut.

Meskipun aset AI tersebut diklaim telah dihapus melalui patch lima hari setelah rilis, IGA tetap menyatakan hal itu sebagai pelanggaran berat.

“Mengingat Sandfall Interactive mengonfirmasi penggunaan seni AI generatif dalam produksi pada hari pemutaran perdana Indie Game Awards 2025, hal ini mendiskualifikasi Clair Obscur: Expedition 33 dari nominasinya,” tegas pihak komite.

Dilema Efisiensi dan Integritas Artistik

Kasus ini memicu diskusi hangat di kalangan pengembang, termasuk di Indonesia. Tekanan ekonomi dan target waktu sering kali memaksa studio independen mencari jalan pintas.

Meurisse sempat membela diri dengan menyatakan bahwa penggunaan AI tersebut sangat minimal dan bertujuan untuk efisiensi.

“Kami menggunakan beberapa AI, tetapi tidak banyak. Kuncinya adalah kami sangat jelas tentang apa yang ingin kami lakukan dan di mana harus menginvestasikan upaya kami. Dan, tentu saja, teknologi telah memungkinkan kami melakukan hal-hal yang tidak terpikirkan belum lama ini,” ungkap Meurisse.

Menanggapi tren ini, beberapa pengembang gim lokal melihat adanya pergeseran nilai dalam industri.

Penggunaan AI untuk tekstur atau latar belakang sering dianggap sebagai solusi “murah” bagi studio dengan pendanaan terbatas, namun berisiko mencederai kepercayaan komunitas yang menjunjung tinggi keaslian karya tangan manusia (human-made).

Pergeseran Pemenang dan Dampak Industri

Pasca diskualifikasi ini, gelar Game of the Year kini resmi dialihkan kepada Blue Prince, sementara kategori Debut Game jatuh ke tangan Sorry We’re Closed.

Pihak IGA menyatakan bahwa keputusan ini perlu diambil demi menjaga marwah industri gim independen.

“Tim organisasi di balik upacara ini adalah kru kecil dengan ambisi besar, dan The Indie Game Awards hanya dapat tumbuh dengan bantuan dan dukungan Anda,” tutup pernyataan tersebut, sembari memastikan bahwa integritas akan tetap menjadi pilar utama untuk penyelenggaraan tahun 2026 mendatang.