Hiburan

Kuburan Band Klarifikasi Lagu ‘Tak Diberi Tulang’ yang Disebut Sindir Slank: Itu Karya AI

Media sosial tengah diramaikan dengan perbincangan mengenai lagu berjudul “Tak Diberi Tulang” yang dikaitkan dengan Kuburan Band. Lagu tersebut santer disebut sebagai respons terhadap single terbaru Slank, “Republik Fufufafa”, yang baru saja dirilis.

Namun, vokalis Kuburan Band, Resa Rizkyan, secara tegas membantah klaim tersebut. Melalui kolom komentar di akun TikTok resmi Kuburan Band, Resa menegaskan bahwa “Tak Diberi Tulang” bukanlah karya resmi dari bandnya.

Menanggapi komentar warganet, Resa justru meminta publik untuk membantu memviralkan lagu terbaru Kuburan Band yang berjudul “Ajeng”. Menurutnya, lagu “Tak Diberi Tulang” yang viral di TikTok merupakan hasil kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

“Boleh bantu viralkan lagu baru Kuburan yang berjudul ‘Ajeng’, bukan lagu yang viral di TikTok yang hoaks, karena itu lagu AI,” tulis Resa, dikutip Kompas.com, Senin (5/1/2026).

Lagu “Ajeng” sendiri dirilis pada tahun 2025, menandai momen penting bagi Kuburan Band yang genap berusia 24 tahun. Melalui lagu ini, Kuburan Band menyampaikan pesan mengenai fenomena kehidupan anak muda masa kini, sekaligus menjadi pengingat akan perjalanan hidup, khususnya masa muda yang kerap dijalani tanpa banyak pertimbangan.

Di sisi lain, Slank baru-baru ini meluncurkan single “Republik Fufufafa” bertepatan dengan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-42 mereka pada 27 Desember 2025. Secara lirik, lagu ini memuat kritik sosial yang disampaikan secara gamblang.

Slank menggambarkan kondisi sebuah negeri yang sarat persoalan, mulai dari penyalahgunaan kekuasaan hingga degradasi moral. Liriknya menyinggung berbagai isu, seperti “sakau kuasa”, narkoba, judi, persoalan gizi, hingga rendahnya kualitas pendidikan.

Penggalan lirik seperti “Negeri stunting dan kurang gizi” serta “sakau kuasa, sakau narkoba” menjadi sorotan warganet. Lagu “Republik Fufufafa” dinilai sebagai bentuk sindiran keras terhadap kondisi sosial yang tengah terjadi, bahkan disebut sebagai salah satu karya Slank dengan kritik paling frontal dalam beberapa tahun terakhir oleh sejumlah pendengar.