Manga

Loki ‘Pilih’ Takdir Tragis di One Piece Bab 1170: Makan Buah Iblis Legendaris, Bunuh Ayah Sendiri

One Piece Bab 1170 menyajikan puncak konflik emosional dan pengungkapan lore yang mendalam, terutama seputar pangeran Elbaph, Loki. Bab ini mengisahkan keputusan tragis Loki yang memakan Buah Iblis legendaris dan menghadapi takdir pahitnya.

Ragnir, Palu Hidup Berwujud Tupai dari Mitologi Nordik

Bab 1170 secara resmi mengonfirmasi bahwa Ragnir, palu legendaris, ternyata hidup dan berwujud seekor tupai. Masih menjadi misteri apakah Ragnir adalah palu yang memakan Buah Iblis atau makhluk hidup yang mengonsumsi Buah Iblis Palu, namun jelas ia memiliki kesadaran dan kehendak sendiri.

Keberadaan Ragnir ini mengingatkan pada mitologi Nordik, khususnya tupai legendaris Ratatoskr yang dikenal sebagai penjaga dan penghubung. Dalam konteks Elbaph, Ragnir berperan sebagai pelindung Buah Iblis legendaris dan yang terpenting, ia sendirilah yang mengizinkan Loki memakan buah tersebut, bahkan bersedia digunakan sebagai senjatanya. Ini mengisyaratkan bahwa Ragnir “memilih” Loki, bukan sekadar alat mati.

Shanks dan Gaban Hadapi Kesulitan Melawan Harald yang Dikendalikan Imu

Konflik di Elbaph semakin memanas ketika Shanks dan Scopper Gaban berupaya menghentikan Harald yang berada di bawah kendali Imu. Situasi kali ini jauh berbeda dari pertarungan sebelumnya melawan God’s Knights, mengingat Harald memiliki Haoshoku Haki.

Gaban sebelumnya telah memahami bahwa musuh yang terkait dengan Imu hanya dapat ditaklukkan dengan serangan Haoshoku Haki yang sangat kuat. Namun, menghadapi lawan yang juga memiliki Haoshoku Haki membuat pertarungan menjadi jauh lebih berbahaya dan rumit. Bab ini menegaskan ancaman Imu meningkat drastis ketika ia “meminjam” tubuh individu kuat, seperti yang pernah terjadi pada Xebec.

Loki Konsumsi Buah Iblis Legendaris, Kekuatan Masih Misteri

Pada momen krusial, Loki akhirnya memakan Buah Iblis legendaris yang selama ini dijaga. Meskipun kekuatan buah tersebut dan tingkat kelegendariannya belum terungkap, bobot naratif dari tindakan ini terasa sangat besar.

Loki menyadari bahwa langkah ini akan menyeretnya pada takdir paling pahit, yakni menghadapi ayahnya sendiri, Harald. Keputusan Loki bukan didorong oleh ambisi pribadi, melainkan rasa tanggung jawab dan kebutuhan mendesak untuk mencegah kehancuran yang lebih besar. Ini semakin memperkuat posisi Loki sebagai karakter tragis, bukan sekadar antagonis atau pangeran bermasalah.

Tragedi Elbaph: Loki Bunuh Harald, Ayahnya Sendiri

Puncak tragedi dalam bab ini terjadi ketika Loki, dengan hati yang berat, membunuh Harald menggunakan palu Ragnir, kemungkinan besar dengan bantuan kekuatan Buah Iblis barunya. Momen ini menjadi sangat emosional karena Harald mendapatkan kembali kesadarannya di detik-detik terakhir hidupnya.

Alih-alih menyalahkan Loki, Harald justru mengucapkan terima kasih, lalu menyampaikan pesan terakhir agar Loki dan Hajrudin hidup rukun sebagai saudara. Adegan ini menegaskan bahwa musuh sejati bukanlah keluarga, melainkan pengaruh Imu yang merusak dari dalam, dan harga untuk melawannya benar-benar mahal.

Akibat insiden ini, Loki kini dikenal sebagai kriminal Elbaph yang membunuh ayahnya sendiri demi Buah Iblis legendaris. Padahal, fakta di balik tragedi tersebut jauh lebih kompleks dan sarat akan pengorbanan.