Membongkar ‘Mens Rea’ Pandji Pragiwaksono: Kritik Tajam Politik Dinasti hingga Keadilan yang Harus Viral
Special show komika Pandji Pragiwaksono bertajuk Mens Rea kini menjadi perbincangan hangat setelah tayang tanpa sensor di Netflix. Materi-materi yang dibawakan Pandji, sebagian besar menyoroti keresahan politik Indonesia pasca-Pilpres 2024, berhasil menarik perhatian publik dan menempatkan Mens Rea sebagai tontonan nomor satu di kategori Top 10 TV Show Netflix.
Kritik Terhadap Tren Politik Artis di Jawa Barat
Dalam materinya, Pandji menyoroti fenomena kemenangan politisi dari kalangan artis di Jawa Barat. Ia menilai masyarakat di wilayah tersebut cenderung memilih figur populer ketimbang rekam jejak dan kapasitas kepemimpinan. Sejumlah nama dijadikan contoh, seperti Dede Yusuf, Dicky Chandra, Deddy Mizwar, Sahrul Gunawan, hingga yang terbaru Jeje Govinda.
Menurut Pandji, menjadikan popularitas sebagai tolok ukur utama seorang pemimpin justru berpotensi merugikan masyarakat itu sendiri.
Matinya Oposisi dan Koalisi Gemuk Pasca-Pilpres 2024
Pandji juga mengkritik kondisi demokrasi pasca-Pilpres 2024, terutama terkait bergabungnya hampir seluruh partai politik ke dalam pemerintahan yang dikenal sebagai Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus. Ia menyoroti partai-partai yang sempat saling menyerang saat masa kampanye, seperti PKS, PKB, dan Nasdem, namun akhirnya bergabung demi memperoleh jatah kursi menteri.
Menurut Pandji, minimnya oposisi membuat fungsi check and balances melemah, sehingga pemerintah berpotensi berjalan tanpa pengawasan yang memadai dari parlemen.
Sorotan Tajam untuk Jokowi, Prabowo, dan Gibran
Materi Pandji turut menyasar Presiden RI ke-7 Joko Widodo hingga Presiden terpilih Prabowo Subianto. Jokowi disorot melalui paradoks demokrasi yang justru membuka jalan bagi politik dinasti.
Sementara itu, Prabowo dikritik lewat kontras antara citra militer yang tegas dengan persona “gemoy” yang ditampilkan selama kampanye untuk menarik suara generasi muda. Pandji mengajak penonton melihat mens rea atau “niat” di balik perubahan citra tersebut, sekaligus mengingatkan bahwa di balik branding lucu, terdapat latar belakang militer dengan masa lalu yang keras.
Tak hanya itu, kinerja Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka juga menjadi sasaran kritik, dinilai seharusnya bisa lebih optimal.
Kaesang Pangarep dan Isu Privilese
Kaesang Pangarep juga menjadi bagian dari materi kritik Pandji dalam Mens Rea. Suami Gamila Arief ini menyoroti proses Kaesang yang bisa langsung menjadi Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) hanya dalam waktu dua hari setelah mendaftar sebagai anggota.
Pandji menggunakan contoh tersebut untuk menyinggung absurditas meritokrasi di Indonesia ketika seseorang memiliki privilese sebagai anak presiden. Isu “roti Rp 400.000” hingga penggunaan jet pribadi turut dijadikan bahan sindiran tentang ketimpangan sosial.
Keadilan yang Harus Viral: Kritik Sistem Hukum
Fenomena keadilan yang baru bergerak setelah suatu kasus viral di media sosial menjadi salah satu kritik utama Pandji. Ia menilai kondisi tersebut membuat masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap sistem hukum.
Menurut Pandji, banyak kasus justru mandek meski sudah dilaporkan ke aparat penegak hukum, sementara persoalan sepele bisa cepat ditindaklanjuti ketika ramai diperbincangkan di media sosial. Pandji menutup materinya dengan pernyataan yang disambut standing ovation dari penonton:
“Berharap kepada siapa? Polisi kita membunuh, tentara kita berpolitik, presiden kita mau memaafkan koruptor, wakil presiden kita… Gibran,” tutup Pandji.