Misteri Kekuatan Tak Terbendung Kesatria Dewa One Piece Terkuak: Ini 4 Celah Fatal Mereka
Kesatria Dewa di dunia One Piece kerap digambarkan sebagai entitas yang nyaris tak terhentikan. Kekuatan mereka begitu dominan, bahkan membuat petarung sekelas Jinbe kewalahan. Saat Bajak Laut Topi Jerami berhadapan langsung dengan salah satu Kesatria Dewa, Gunko, hasilnya terasa brutal dan timpang. Jinbe, yang dikenal dengan pengalaman dan kekuatan luar biasa, tidak mampu melukai Gunko sama sekali. Tubuh Gunko seolah kebal, tak peduli sekeras apa serangan yang diterima.
Fakta bahwa Jinbe, yang sering dianggap setara dengan Zoro atau Sanji dalam kekuatan fisik dan teknik, tetap tak berdaya, menunjukkan satu hal mengerikan: Kesatria Dewa memang berada di level yang berbeda. Namun, seiring berjalannya cerita, satu demi satu celah dalam kekuatan mereka mulai terlihat. Regenerasi mereka ternyata bukan tanpa batas, dan ada beberapa kelemahan krusial yang bisa dieksploitasi.
1. Serangan Berlapis Haoshoku Haki Melambatkan Regenerasi
Jika harus menunjuk satu kelemahan paling fatal dari Kesatria Dewa, maka jawabannya jelas: serangan yang dilapisi Haoshoku Haki tingkat lanjut. Ketika Kesatria Dewa terkena serangan jenis ini, regenerasi mereka melambat drastis. Mereka memang tidak langsung tumbang, tetapi keunggulan utama mereka, yaitu regenerasi yang seolah tak habis-habis, mulai runtuh. Inilah satu-satunya jenis serangan yang sejauh ini secara konsisten membuat Kesatria Dewa benar-benar terancam.
Efek ini bukan sekadar teori baru. Sejarah sudah membuktikannya. Di God Valley, Rocks D. Xebec mampu mempermalukan Figarland Garling karena serangan Haoshoku Haki-nya cukup kuat untuk menekan regenerasi sang Kesatria Dewa. Hal yang sama menjelaskan mengapa Bajak Laut Roger berulang kali bisa memukul mundur dan “memulangkan” Kesatria Dewa yang mencoba merebut Shanks saat masih kecil.
Masalahnya, ini bukan kelemahan yang bisa dieksploitasi semua pihak. Banyak kelompok bajak laut tidak memiliki pengguna Haoshoku Haki sama sekali, atau memiliki pengguna Haoshoku Haki yang tidak mampu mengalirkannya ke serangan fisik, seperti kasus Eustass Kid. Namun, kelemahan ini bukan masalah besar bagi Bajak Laut Topi Jerami. Dua anggotanya, Monkey D. Luffy dan Roronoa Zoro, sudah terbukti mampu melapisi serangan mereka dengan Haoshoku Haki. Artinya, dari sudut pandang mekanik pertarungan, Topi Jerami memiliki kunci yang tepat untuk benar-benar melukai Kesatria Dewa.
2. Banyak Kesatria Dewa Tidak Memiliki Haoshoku Haki
14 tahun lalu, Scopper Gaban kewalahan karena Raja Harald juga memiliki Haoshoku Haki. Ini membuat pertarungan semakin sulit karena setiap serangan Harald menjadi berbahaya, sementara Harald bisa menggunakan Haki Raja untuk menetralisir serangan Haki yang ditujukan ke tubuhnya. Jika sosok seperti Gaban, yang sudah terbiasa menghadapi Kesatria Dewa, bisa sampai terkejut dan tertekan oleh Harald, maka implikasinya jelas: tidak umum Kesatria Dewa memiliki Haki Raja.
Dengan kata lain, banyak Kesatria Dewa kemungkinan besar tidak memiliki Haoshoku Haki. Ini berdampak besar pada mekanik pertarungan. Tanpa Haoshoku Haki, mereka tidak bisa menciptakan “armor” Haoshoku Haki, sehingga tidak mampu menetralisir serangan Haki Raja lawan secara langsung. Padahal, itu adalah salah satu kelemahan mereka.
Inilah yang membuat figur seperti Rocks D. Xebec (terutama setelah dijadikan iblis) atau Harald terasa jauh lebih sulit dijatuhkan dibanding Kesatria Dewa macam Shepherd Sommers. Mereka bukan hanya kuat secara fisik, tapi juga terlindungi oleh kehendak raja. Sebaliknya, Kesatria Dewa yang tidak memiliki Haoshoku Haki justru berada di posisi rawan. Begitu mereka terkena serangan berlapis Haoshoku Haki, mereka tidak punya alat pertahanan setara, dan keunggulan regenerasi mereka pun bisa ditekan dengan brutal.
3. Tato Perjanjian Laut Dalam sebagai Titik Lemah
Ini masih teori, namun memiliki implikasi besar. Di bab 1170, Raja Harald yang sebelumnya sudah dikuasai sepenuhnya oleh Imu sempat kembali “waras” setelah Loki merusak tato Perjanjian Laut Dalam di lengannya. Harald lalu memperingatkan Loki bahwa dia mulai kehilangan kendali lagi saat tato itu mulai pulih, dan meminta putranya cepat mengakhiri pertarungan.
Implikasinya, jika tato itu dirusak, Kesatria Dewa mungkin tidak langsung kehilangan kekuatan, tetapi kendali Imu bisa terganggu, atau bahkan kesadaran asli mereka bisa muncul sesaat, seperti yang terjadi pada Harald. Mencoba menyerang para Kesatria Dewa dari tato mereka dulu sepertinya bisa menjadi strategi yang patut dicoba.
4. Tidak Berdaya Melawan Kehendak Imu
Kasus Raja Harald membuktikan dengan tragis: bahkan jika seorang Kesatria Dewa awalnya adalah sosok baik, begitu mereka menerima tato Perjanjian Laut Dalam, sang kesatria kehilangan kemampuan untuk melawan kehendak Imu. Kendali itu bersifat absolut dan tidak bergantung jarak; Imu bisa menguasai mereka dari mana pun.
Saat kewarasannya sempat kembali, Harald bahkan mengucapkan kalimat yang sangat menakutkan: “Aku sempat mulai berpikir diriku adalah dewa.” Ini memberi petunjuk bahwa kontrol Imu bukan sekadar perintah, melainkan penanaman identitas palsu, membelokkan persepsi diri korban hingga mereka benar-benar percaya pada peran “ilahi” yang dipaksakan.
Lalu ada kejadian di bab 1149. Ketika Gunko sempat terbebas dari cuci otak dan mengingat Brook, reaksi Imu terjadi seketika. Tanpa peringatan, Imu langsung membajak tubuh Gunko. Dari dua kasus ini, satu kesimpulan pahit mengemuka: Kesatria Dewa bukan sekutu Imu. Mereka adalah wadah, alat, atau lebih tepatnya, budak. Apa pun ambisi pribadi mereka sebelum menjadi Kesatria Dewa, semuanya lenyap di hadapan kehendak Imu. Dan selama kendali itu utuh, tidak ada kemungkinan negosiasi, tidak ada kemungkinan pembelotan, tidak ada kemungkinan perlawanan dari dalam.