Hiburan

Musik dan Ilusi Waktu: Menjelajahi Ingatan dan Harapan di Tengah Arus Digital

Di penghujung tahun dan menyambut awal yang baru, alunan musik kerap menjadi teman setia. Ia didengarkan, baik untuk mengenang pahitnya hidup yang telah berlalu, maupun merajut angan akan masa depan yang lebih baik. Dalam konteks ini, musik menjelma menjadi waktu yang bisa didengar, sebuah bunyi yang membangkitkan kenangan atau bahkan imajinasi yang belum sepenuhnya terwujud.

Musik sebagai Waktu yang Terdengar

Musik melampaui sekadar penanda waktu; ia adalah waktu itu sendiri. Ketika didengarkan, musik seolah abadi dalam ingatan, berputar layaknya soundtrack yang mengiringi berbagai peristiwa, entah itu tragedi atau sebaliknya. Ini menimbulkan sebuah paradoks: musik memiliki tempo dan irama yang konstan, namun ia mampu menjebak ingatan di masa silam, sekaligus melempar angan ke masa depan.

Musik dapat diibaratkan sebagai mesin waktu yang benar-benar nyata. Melalui musik, manusia dapat terhubung dengan ruang temporal secara terus-menerus, hanya demi mengais-ngais kenangan dan imajinasi akan diri. Lirik dan melodi muncul sebagai penjaga ingatan yang paling puitis, meski rapuh. Sebuah nyanyian sederhana mampu membangkitkan kisah masa kecil, kembali menghadirkan aroma, melihat cahaya, dan merasakan suhu yang telah lama sirna dalam arsip tubuh.

Distorsi Ingatan dalam Alunan Melodi

Namun, apakah kenangan yang dipantik oleh musik adalah ingatan yang murni? Seringkali, ingatan tersebut telah terdistorsi. Ia terpengaruh oleh susunan akord dan nada, dipercepat atau diperlambat sesuai tempo, serta keras atau lirih sesuai dinamika. Karena itulah, ingatan yang hadir melalui musik seringkali melampaui kenyataan. Ia dapat tampil lebih indah atau justru lebih buruk dari aslinya.

Yang kita rindukan sejatinya bukan masa lalu atau imajinasi tentang masa depan, melainkan versi sinematik yang dikonstruksi oleh bunyi dalam otak kita. Di tengah serbuan informasi yang hadir tanpa jeda melalui kuasa algoritma, musik dalam perangkat elektronik kita menjadi satu-satunya “data” yang kita izinkan untuk terus mengulang kehadirannya. Kita memutarnya lagi dan lagi, tanpa beban.

Ilusi Stabilitas di Tengah Gempuran Informasi

Kita jarang menanyakan pada diri sendiri mengapa harus memutar lagu yang sama setiap hari, bahkan menjadikannya semacam aktivitas yang dirindukan. Dalam pengulangan bunyi itu, kita menemukan “ilusi stabilitas”, seolah-olah kita menciptakan “pulau temporal”, sebuah dunia aman yang menolak hukum perubahan. Musik mencoba menciptakan kenangan yang sama, atau sengaja dibentuk serupa, karena ada ketakutan akan kehilangan.

Padahal, setiap kali mendengarkan musik adalah pengalaman yang berbeda, sebab manusianya terus tumbuh dan berubah. Resonansinya mungkin masih sama, tetapi gema dalam menyikapi kenangan tak lagi persis sama. Namun, perkembangan musik akhir-akhir ini tidak lagi sepenuhnya manusiawi. Ia dirajut oleh angka-angka algoritma, menjadi musik robotik yang menyeruak dalam narasi kehidupan digital kita.

Ketika Musik Menjadi Robotik: Era Algoritma

Musik jenis demikian diproduksi secara besar-besaran dan berpotensi mengacaukan “dunia waktu” para pendengarnya. Lagu-lagu algoritma bisa terasa sangat familiar di telinga, mudah dikenali, seolah-olah mereka sebelumnya telah tersimpan rapi dalam ingatan kolektif kita dan sekadar menunggu untuk dibangkitkan. Begitulah cara kerja musik artificial intelligence (AI).

AI belajar membaca lagu-lagu yang disukai manusia, yang banyak didengar, dan banyak diputar. Kemudian, ia mengompresi waktu. Musik-musik dari periode tertentu diaduk menjadi satu. Jangan heran jika kemudian musik era 80-an atau 90-an terasa lebih kekinian, baru, dan canggih. Mendengarkannya menciptakan nostalgia baru pada sesuatu yang mungkin tak pernah sepenuhnya dipahami.

Hasilnya adalah perasaan liminal yang paradoks. Di satu sisi, ada rasa dejavu akan masa lalu yang kembali hadir dalam ingatan, atau perasaan bahwa segala sesuatu itu sudah terjadi. Namun di sisi lain, muncul perasaan asing, kenangan lama dibungkus dengan bunyi kemasan baru, sehingga masa lalu bisa lenyap tergantikan timbunan kenangan baru, di hari ini, di masa kini.

Lantas, akankah hari ini kita masih punya kenangan, ketika ingatan tergantikan dengan “otak digital” yang setiap saat menemani lewat jempol dan jari jemari kita? Barangkali, lupa adalah kemewahan, dan mendengarkan musik manusiawi adalah puncak dari segala kerinduan. Dengan kata lain, musik yang tak sepenuhnya baru adalah kekuatan utamanya. Musik adalah sejenis makhluk pengulang, menemukan kenyamanan dalam pola, dan membutuhkan referensi untuk memahami yang asing.

Di zaman serba AI, kita bisa saja menyatukan vokal tahun lampau dengan lagu tahun kini. Bahkan vokalis yang telah tiada dapat dihadirkan kembali untuk berkolaborasi dengan musisi muda kiwari. Ya, dunia digital telah menciptakan dialog musikal yang sebelumnya mustahil dilakukan. Namun, bagaimana dengan kenangan? Bagaimana dengan refleksi waktu yang sebelumnya kita lekatkan pada musik tertentu?

Waktu kemudian nampak lentur, kenangan adalah dunia abstrak yang bisa dihapus dan digantikan, atau bahkan dihentikan sementara. Musik yang tersimpan dalam lanskap digital kita seolah upaya menolak kefanaan, alih-alih mengawetkan momentum yang seharusnya hilang ditelan waktu.

Distraksi dan Kehilangan Esensi

Di era serba distraksi, fokus mendengarkan musik dengan penuh perhatian adalah fenomena langka. Laju perkembangan musik yang tak bisa diperlambat seolah memaksa kita untuk menyerah, tidak lagi punya kesempatan untuk menarik napas dan menanam ingatan. Padahal, hubungan manusia dengan musik yang dicintainya adalah hubungan dengan dirinya dalam versi tertentu, versi lama, versi yang dirindukan, atau justru sebaliknya.

Mendengarkan musik yang disuka adalah upaya melihat kita yang lain, tentang apa yang pernah kita rasakan, siapa yang pernah kita cintai dan sentuh. Musik hari ini lebih banyak digunakan sebagai pelarian atas waktu. Ia enak didengarkan, tetapi tak menarik untuk dikenang. Semata hadir agar kita merayakan berlalunya jam dan menit.

Musik membentuk ruang anestesi temporal, agar kita sejenak mengistirahatkan diri dari lelahnya bekerja, kalahnya dunia percintaan, dan jenuhnya hidup. Ia membuat yang lama terasa sebentar, dan yang sebentar terasa terhenti. Terlebih, teknologi digital memecah musik menjadi serpihan-serpihan yang bisa diacak ulang, dibentuk lagi sesuai keinginan. Semua itu adalah penanda atas penolakan pada waktu linier. Musik bisa berputar-putar, melompat-lompat, membentuk kolase waktu dari berbagai era.

Arsitek Waktu Musikal di Penghujung Tahun

Pilihan utama kemudian ada pada pendengar: mau seperti apa musik yang didengarnya, hanyut dalam masa lalu, atau menikmati masa kini yang banal. Kita hidup di zaman di mana setiap orang menjadi “arsitek waktu musikal” atas dirinya sendiri. Di akhir tahun 2025, dan mengawali tahun 2026, tepat di mana kita merenungi waktu yang berlalu dan yang akan datang, musik didengarkan sekaligus menjadi cermin.

Bisa jadi ia akan menghakimi atas waktu yang terbuang, atau justru memberi soundtrack atas segala keberhasilan. Di akhir tahun, musik bisa berkisah tawa, tetapi juga tangis dan ratapan. Mendengarkan musik berarti ada narasi berulang, dan ada rajutan harapan di tahun mendatang, yang sering disebut resolusi. Meskipun, harus jujur diakui, resolusi adalah kesunyian lain yang diciptakan. Kemudian lewat musik, di tahun-tahun depan, resolusi itu menjadi ratapan yang lain. Begitu seterusnya.

Setelah musik usai diputar, kita kembali ke kenyataan tentang pahitnya hidup. Namun, kita kembali menemukan harapan ketika musik kembali berbunyi. Musik dan waktu sebenarnya adalah hal yang sama. Keduanya berjalan bergandengan, membawa pemahaman bahwa tawa dan sedih selalu berjalan berdampingan. Jika ada bunyi, akan senantiasa ada kisah-kisah manusia di baliknya.