Plot Twist The Great Flood Netflix: Alasan Ini Bukan Sekadar Film Bencana Biasa

Awalnya, penonton disuguhi pemandangan Seoul yang tenggelam dalam sekejap. Air bah yang dipicu oleh hantaman asteroid dan mencairnya lapisan es Antartika memaksa Gu An-na (Kim Da-mi), seorang peneliti AI, untuk berjuang menyelamatkan putranya, Za-in (Kwon Eun-seong), di sebuah apartemen setinggi 30 lantai.
Namun, bagi mereka yang mengharapkan film bencana konvensional seperti Haeundae atau The Tower, Netflix justru memberikan sebuah “kejutan” narasi yang jauh lebih rumit dan kelam.
The Great Flood bukan sekadar tontonan tentang bertahan hidup di tengah tsunami raksasa. Memasuki pertengahan cerita, sutradara Kim Byung-woo melakukan manuver tajam, mengubah drama bencana menjadi labirin fiksi ilmiah (sci-fi) yang membingungkan sekaligus memikat. Plot twist ini mengungkap bahwa An-na bukan sekadar ibu yang malang, melainkan kunci dari sebuah proyek riset global yang sangat rahasia.
Lebih dari Sekadar Film Bencana: Eksperimen Genre Kim Byung-woo
Sutradara Kim Byung-woo, yang sebelumnya sukses lewat The Terror Live, secara terang-terangan menyebut bahwa film ini adalah sebuah eksperimen penggabungan genre. Ia ingin penonton tidak hanya merasakan ketegangan fisik, tetapi juga kebingungan intelektual.
“Ini adalah film genre. Bencana dan fiksi ilmiah dijalin menjadi satu. Kedua genre tersebut memiliki keseruannya masing-masing, dan saya harap penonton bisa merasakan semuanya,” ujar Kim Byung-woo.
Karakter Son Hee-jo (Park Hae-soo), seorang petugas keamanan korporat yang muncul untuk mengevakuasi An-na, menjadi katalis perubahan suasana film. Kedatangannya membawa pengungkapan bahwa banjir global ini memiliki lapisan konspirasi yang melibatkan laboratorium rahasia PBB.
Di titik inilah, penonton mulai dipaksa bertanya-tanya tentang realitas yang mereka saksikan di layar.
Penjelasan Film Netflix “The Great Flood” + Urutan Plot dan Interpretasi
❗️ [PERINGATAN SPOILER – Harap baca HANYA SETELAH Anda menonton filmnya di Netflix.] ❗️
➡️ Bagian Pertama: The Great Flood (Banjir Besar) 🌊
Ini adalah premis dan plot awal dari cerita: Air banjir meluap di luar kendali hingga mencapai lantai-lantai atas sebuah gedung tinggi. Anna mencoba melarikan diri bersama putranya, Ja In, saat mereka berjuang bertahan hidup di tengah bencana terbesar di Bumi.
➡️ Bagian Kedua: Plot Twist AI ☄️
Terungkap bahwa Ja In (sang anak) adalah model AI (kecerdasan buatan) yang merupakan hasil penelitian Anna dan atasannya melalui penciptaan Emotion Engine.
APA ITU EMOTION ENGINE?
Pada dasarnya, ini adalah model AI yang memungkinkan kecerdasan buatan untuk bisa merasakan emosi layaknya manusia.
➡️ URUTAN PLOT (Timeline Cerita)
- Ja In, sebuah AI, diciptakan dan menjadi subjek uji coba untuk Emotion Engine.
- Anna “mengadopsi” Ja In.
- Peristiwa alam terjadi yang menyebabkan The Great Flood (Banjir Besar), mengancam kepunahan umat manusia.
- Anna dan Ja In tertangkap.
- Anna pergi ke luar angkasa untuk melanjutkan pengerjaan Emotion Engine, namun pesawatnya dihantam oleh meteorit.
- Anna mengajukan diri sebagai subjek uji coba dengan cara mengekstraksi ingatannya untuk proses pembelajaran Emotion Engine.
Subjek tes dan memori mereka:- Anna — Ibu
- Ja In — Anak
- Ini menandai dimulainya Bagian Kedua, di mana Anna dan Ja In terjebak dalam simulasi dan time loop (pengulangan waktu) sampai Anna berhasil menemukan Ja In.
➡️ TENTANG TIME LOOP (PENGULANGAN WAKTU):
Film ini bekerja seperti game simulasi dalam sebuah lingkaran waktu. Cerita terus berulang setiap kali karakter “mati” dan kembali ke titik simpan (checkpoint) setelah setiap reset, persis seperti video game. Jadi, karakter utama terus melakukan respawn sampai dia menyelesaikan tujuannya.
- Angka yang tertera di bajunya kemungkinan besar mewakili jumlah berapa kali dia harus mengulangi semuanya.
- Secara eksternal ini adalah sebuah simulasi, namun bagi karakter Anna, ini terasa seperti pengulangan waktu yang nyata.
➡️ MENGAPA MEREKA ADA DALAM LINGKARAN WAKTU (LOOP)?
Tujuannya adalah untuk pembelajaran AI (AI learning). AI mempelajari pola, melihat dan mengurangi kesalahan, serta mendapatkan “pengetahuan umum” melalui repetisi (pengulangan). Karena model AI ini adalah “Emotion Engine“, tujuan utamanya kemungkinan besar adalah agar AI tersebut mempelajari dan menyempurnakan emosi manusia.
- Inilah alasan mengapa Anna mulai membantu tetangga yang membutuhkan (seperti menjalankan side quests dalam game) saat dia mengulangi setiap garis waktu.
- Hal ini tidak hanya tentang mempelajari emosi, tapi mungkin juga mempelajari pemecahan masalah (problem solving). Jumlah pengulangan yang sangat banyak menunjukkan betapa kompleksnya sebuah AI. Ini mirip dengan cara AI seperti ChatGPT belajar, namun melalui metode LLM.
➡️ KESIMPULAN
Bagian pertama film adalah Anna (manusia) dan Ja In (anak AI-nya). Bagian kedua hingga akhir adalah Anna dan Ja In sebagai subjek tes (hanya memori mereka, tanpa tubuh fisik) untuk model AI: Emotion Engine.
Anna di bagian akhir bukan lagi manusia, namun pengulangan dan akhir film menunjukkan bagaimana Emotion Engine berhasil menyempurnakan “emosi manusia” yang dibutuhkan untuk “merasa menjadi manusia” kembali. Di akhir film, pemahaman saya adalah keduanya bukan lagi manusia, melainkan makhluk sintetik yang telah menyelesaikan pelatihan AI untuk Emotion Engine.
Jejak ‘Edge of Tomorrow’ dan ‘Interstellar’ dalam Narasi Rekursif
Salah satu elemen yang paling banyak dibicarakan adalah penggunaan struktur narasi rekursif atau looping. Alih-alih bergerak maju secara linear, The Great Flood mengajak penonton kembali ke momen-momen penting melalui sudut pandang yang berbeda. Gaya ini mengingatkan pada mekanisme “trial and error” dalam Edge of Tomorrow karya Doug Liman.
Selain itu, tone apokaliptik yang emosional dan skala bencana yang masif membuat film ini kerap disandingkan dengan Interstellar karya Christopher Nolan.
Berikut adalah beberapa kemiripan struktur yang membuat The Great Flood terasa seperti “perkawinan” berbagai mahakarya sci-fi:
- Narasi Berulang (Recursive): Karakter utama “memperbaiki” reaksi emosional dan tindakannya saat menghadapi situasi yang sama berulang kali, mirip dengan teka-teki mental Charlie Kaufman.
- Skala Bencana Global: Penggunaan tsunami raksasa sebagai latar belakang kepunahan manusia yang membangkitkan nuansa keputusasaan ala Interstellar.
- Eksplorasi AI dan Kemanusiaan: Fokus pada pekerjaan An-na sebagai peneliti AI yang menjadi inti dari kunci kelangsungan hidup umat manusia.
Transisi ini membuat The Great Flood bergeser dari sekadar aksi fisik menjadi komentar sosial tentang bagaimana teknologi dan keputusan manusia di masa lalu membentuk masa depan yang “dioptimalkan”.
Penantian Dua Tahun dan Produksi Intensif
Kesuksesan visual yang ditampilkan dalam film ini tidak diraih dengan mudah. Proses syuting telah rampung sejak Januari 2023, namun Netflix menunda penayangannya selama dua tahun demi memastikan kualitas efek visual dan penyempurnaan cerita. Film ini juga menandai debut Kim Da-mi dalam proyek orisinal Netflix, di mana ia kembali memerankan sosok ibu setelah sebelumnya tampil di film Soulmate.
Pihak produksi mengungkapkan bahwa para aktor, termasuk Park Hae-soo, harus menjalani pelatihan bawah air yang sangat intensif selama enam bulan. Set air yang dibangun oleh sutradara Kim Byung-woo dirancang sedemikian rupa untuk menciptakan tekanan atmosfer yang nyata bagi para pemain.
Fakta Produksi ‘The Great Flood’:
| Sutradara | Kim Byung-woo |
| Masa Syuting | Juli 2022 – Januari 2023 |
| Lokasi Premiere | Busan International Film Festival ke-30 |
| Pemeran Utama | Kim Da-mi, Park Hae-soo, Kwon Eun-seong |
Sejak tayang perdana pada Jumat (19/12/2025), The Great Flood terus memicu diskusi hangat di media sosial. Banyak penonton mengaku terkejut dengan perubahan genre yang tidak terduga di tengah film. Meski beberapa kritikus menilai penceritaannya cukup rumit karena ketiadaan antagonis yang jelas, film ini tetap dianggap sebagai salah satu pencapaian teknis dan naratif paling ambisius dari industri sinema Korea Selatan tahun ini.