Review Film Suka Duka Tawa: Aco Tenriyagelli Bedah Isu Fatherless Lewat Panggung Komedi Tunggal
Panggung komedi tunggal atau stand-up comedy sering kali dipandang sebagai ruang hiburan semata. Namun, melalui film Suka Duka Tawa yang mulai menyapa penonton di bioskop sejak Kamis (8/1/2026), sutradara Aco Tenriyagelli mencoba membuktikan premis bahwa “komedi terbaik justru lahir dari luka yang paling dalam.”
Film produksi BION Sinema ini menjadi tonggak penting bagi Aco sebagai debut penyutradaraan solo film panjang. Alih-alih menyajikan drama keluarga konvensional, Suka Duka Tawa hadir sebagai refleksi tajam terhadap fenomena fatherless yang tengah menjadi perbincangan hangat di Indonesia.
Ironi Karier di Atas Luka Lama
Cerita berfokus pada Tawa (Rachel Amanda), seorang komika muda yang terjebak dalam stagnasi karier. Ia tinggal bersama ibunya, Cantik (Marissa Anita), sembari memendam luka akibat ditinggalkan sang ayah, Pak Hasan alias Keset (Teuku Rifnu Wikana). Keset sendiri adalah mantan pelawak senior yang masa jayanya telah sirna dan kini hidupnya berantakan.
Ironi muncul ketika karier Tawa justru melesat pesat saat ia mulai berani membongkar aib dan rasa sakit hatinya terhadap sang ayah sebagai materi komedi di atas panggung. Pertemuan kembali antara Tawa dan Keset di titik terendah hidup masing-masing menjadi sumbu emosional utama dalam film berdurasi 127 menit ini.
Keseimbangan Drama dan Komedi Organik
Sebagai sutradara, Aco Tenriyagelli terlihat sangat berhati-hati dalam menjaga porsi antara drama dan komedi. Humor dalam film ini tumbuh secara organik dari situasi sehari-hari yang canggung, sarkasme antar-karakter, hingga detail kecil yang mungkin terlewatkan pada tontonan pertama. Penonton diajak tertawa, namun di saat yang sama merasa tersentil oleh realitas pahit yang ditampilkan.
Kehadiran para komika seperti Bintang Emon, Arif Brata, dan Gilang Bhaskara memberikan warna yang kuat. Mereka bukan sekadar pelengkap, melainkan representasi support system yang membuat karakter Tawa terasa lebih manusiawi dan dekat dengan penonton.
Memotret Isu Fatherless Tanpa Hitam-Putih
Salah satu pencapaian terbesar film ini adalah keberhasilannya memotret isu ketidakhadiran sosok ayah tanpa terjebak dalam narasi hitam-putih. Film ini tidak mencari siapa yang paling bersalah, karena setiap karakter digambarkan memiliki ketidaksempurnaan. Keset dengan ego masa lalunya, dan Tawa dengan kemarahan yang terkadang meledak secara egois.
Keseimbangan perspektif ini membuat resolusi konflik tidak terasa dipaksakan. Film ini secara jujur menunjukkan bahwa “memaafkan tidak selalu berarti melupakan,” dan bahwa “luka tidak selalu harus sembuh total untuk bisa diterima.”
Teuku Rifnu Wikana kembali menunjukkan kelasnya sebagai aktor watak dengan memerankan Keset, sosok pelawak yang seolah “mati” di dalam namun tetap berusaha terlihat lucu di luar. Sementara itu, Rachel Amanda berhasil mengeksekusi peran Tawa dengan dinamika emosi yang membuat penonton bisa merasa cinta, kesal, sekaligus iba secara bersamaan. Suka Duka Tawa kini sudah dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop Indonesia.