Hiburan

Gagal di Box Office, Sutradara Kim Byung Woo Bertaruh Lewat The Great Flood Netflix

Gambar: Briefing produksi film Netflix ‘The Great Flood’ bersama aktor Park Hae-soo, sutradara Kim Byung-woo, aktor cilik Kwon Eun-sung, dan aktor Kim Da-mi ⓒ Netflix Korea

Setelah menghadapi hantaman keras di pasar domestik melalui proyek ambisius sebelumnya, sutradara Kim Byung-woo kini resmi mengalihkan pertaruhannya ke jalur streaming.

Film terbarunya, The Great Flood, telah mengudara secara global di Netflix mulai Jumat (19/12/2025), membawa misi besar untuk menebus kegagalan komersial yang ia alami di layar lebar.

Langkah ini diambil di tengah lesunya industri bioskop Korea Selatan, di mana angka penjualan tiket domestik tercatat hanya mencapai sekitar 60 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kondisi ini membuat para sineas papan atas, termasuk Kim, melihat Netflix sebagai ruang aman sekaligus panggung yang lebih agresif untuk eksperimen genre yang berisiko tinggi.

Bayang-bayang Kegagalan ‘Omniscient Reader’

Keputusan Kim Byung-woo untuk merilis The Great Flood di platform digital tidak lepas dari catatan performa film pendahulunya, Omniscient Reader: The Prophecy (2025).

Meski mengantongi bujet fantastis sebesar 22 juta USD (sekitar Rp343 miliar), film tersebut dinyatakan gagal secara komersial.

Para kritikus menilai Omniscient Reader terpuruk akibat pembangunan dunia (world-building) yang kurang matang serta porsi melodrama yang berlebihan.

Hal ini menjadi beban tersendiri bagi Kim saat menggarap The Great Flood, sebuah proyek yang awalnya dikembangkan untuk layar lebar dengan skala visual tsunami raksasa dan keruntuhan gedung pencakar langit.

Kim Byung-woo menegaskan bahwa kali ini ia mencoba menjahit dua elemen besar yang menjadi ciri khasnya.

“Ini adalah film genre. Bencana dan fiksi ilmiah dijalin menjadi satu. Kedua genre tersebut memiliki keseruannya masing-masing, dan saya harap penonton bisa merasakan semuanya,” Ungkap Kim.

Baca juga Plot Twist The Great Flood Netflix: Alasan Ini Bukan Sekadar Film Bencana Biasa

Eksperimen Narasi di Tengah Bencana Global

The Great Flood bukan sekadar film bencana konvensional. Ceritanya berpusat pada Gu An-na (Kim Da-mi), seorang peneliti kecerdasan buatan (AI) sekaligus ibu tunggal yang terjebak di apartemen lantai tiga saat banjir bandang menenggelamkan Seoul.

Bencana ini dipicu oleh dampak asteroid yang mencairkan lapisan es Antartika, sebuah premis apokaliptik yang mengancam kepunahan umat manusia.

Di tengah kepanikan warga dan aksi penjarahan, An-na bertemu dengan Son Hee-jo (Park Hae-soo), seorang petugas keamanan misterius yang dikirim untuk mengevakuasinya.

Namun, seiring air naik hingga lantai 30, plot film bergeser dari sekadar bertahan hidup menjadi teka-teki fiksi ilmiah yang rumit. Kim menggunakan struktur recursive narrative atau pengulangan momen-momen penting, sebuah teknik yang ia prediksi akan memicu kebingungan sekaligus rasa penasaran penonton.

“Saya memperkirakan penonton akan sampai pada titik di mana mereka bertanya, ‘Apa yang sebenarnya terjadi?’” tambah sang sutradara.

Produksi Intensif dan Penantian Dua Tahun

Ambisi visual The Great Flood menuntut proses produksi yang tidak main-main. Berikut adalah fakta di balik layar pembuatannya:

  • Durasi Syuting: Berlangsung selama enam bulan, mulai Juli 2022 hingga Januari 2023.
  • Latihan Khusus: Para aktor, termasuk Kim Da-mi dan Park Hae-soo, menjalani pelatihan ekstensif untuk adegan bawah air di set yang dirancang khusus.
  • Penundaan Tayang: Film ini sempat mengalami penundaan jadwal rilis selama dua tahun (dari rencana awal 2023-2024) guna memastikan kualitas efek visual (VFX) mencapai standar tertinggi.
  • Debut Platform: Menjadi judul orisinal Netflix pertama bagi Kim Da-mi setelah kesuksesan drama-dramanya di platform yang sama.

Kehadiran aktor cilik Kwon Eun-seong sebagai Shin Za-in (putra An-na) juga menjadi sorotan, setelah sebelumnya ia bekerja sama dengan Kim Byung-woo dalam Omniscient Reader.

Kolaborasi ini diharapkan mampu memberikan kedalaman emosional di tengah gempuran aksi sci-fi yang dingin.

Upaya Menebus Kepercayaan Penonton

Dengan narasi yang disebut-sebut terinspirasi dari gaya penceritaan Edge of Tomorrow dan sentuhan emosional ala Interstellar, Kim Byung-woo tampak ingin membuktikan bahwa dirinya masih mampu mengelola bujet besar tanpa terjebak dalam lubang melodrama yang dangkal.

Penayangan perdana di Festival Film Busan ke-30 pada September 2025 lalu telah memberikan sinyal positif, dengan audiens memuji kualitas visual yang mengesankan.

Kini, kesuksesan The Great Flood sepenuhnya bergantung pada algoritma global Netflix dan apakah penonton mampu menerima eksperimen “campuran genre” yang disuguhkan Kim sebagai bentuk penebusan atas kegagalannya di masa lalu.