Masih Bingung Setelah Nonton? Ini Penjelasan Alur Ending The Great Flood, Mindblowing !

Film terbaru Netflix asal Korea Selatan, The Great Flood, sukses memicu perdebatan di kalangan penonton sejak perilisannya. Meski judulnya menjanjikan aksi bertahan hidup dari bencana banjir besar yang melanda Seoul, sutradara Kim Byung-woo justru menyajikan narasi yang jauh lebih kompleks.
Film ini menggabungkan elemen fiksi ilmiah (sci-fi) dengan teori kecerdasan buatan (AI) yang meninggalkan banyak pertanyaan bagi penonton di akhir cerita.
Bukan Sekadar Film Bencana: Rahasia di Balik Kejadian Berulang
Alur cerita dimulai dengan An-na (Kim Da-mi), seorang peneliti AI yang terbangun di apartemennya saat banjir bandang mulai menenggelamkan gedung-gedung tinggi. Di tengah kekacauan, seorang petugas keamanan bernama Hee-jo (Park Hae-soo) datang untuk mengevakuasinya ke atap gedung.
Namun, penonton segera menyadari adanya kejanggalan: An-na seolah terjebak dalam lingkaran waktu atau time loop, di mana setiap kali ia gagal atau mati, ia akan kembali terbangun di tempat tidur.
Sutradara Kim Byung-woo mengakui bahwa kebingungan penonton adalah bagian dari desain film ini. Dalam sebuah konferensi pers di Seoul, ia menyatakan:
“I expect people will hit a point where they’re asking, ‘What the hell is going on?’ That confusion is intentional. It mirrors what An-na’s experiencing. Her questions don’t get answered quickly, and neither do yours.”
Baca juga Terungkap, Alasan The Great Flood Ditunda 2 Tahun oleh Netflix Meski Syuting Selesai
Penjelasan Alur dan Ending: Proyek “Emotion Engine” dan Pelatihan AI
Bagi Anda yang bingung mengapa kejadian tersebut terus berulang, jawabannya terletak pada identitas asli Ja-in, putra An-na.
Ja-in bukanlah anak manusia biasa, melainkan sebuah model kecerdasan buatan (AI) canggih. Film ini mengungkapkan bahwa realitas yang kita lihat di sebagian besar durasi film adalah sebuah simulasi digital untuk mengembangkan Emotion Engine.
Berikut adalah poin-poin penting untuk memahami ending-nya:
- Memori yang Diekstraksi: An-na yang asli sebenarnya telah meninggal di luar angkasa saat kapalnya dihantam meteorit. Sebelum itu, ia mengajukan diri agar ingatannya diekstraksi untuk menjadi bahan pembelajaran bagi AI.
- Proses Pembelajaran AI: Kejadian berulang atau looping yang dialami An-na adalah proses AI Learning. AI tersebut mempelajari emosi, empati, dan cara pemecahan masalah manusia melalui pengulangan ribuan kali—mirip dengan cara kerja sistem machine learning di dunia nyata.
- Tujuan Akhir: “Banjir Besar” dalam simulasi ini adalah ujian bagi AI untuk “merasa menjadi manusia”. Ketika An-na dalam simulasi akhirnya berhasil menyelamatkan Ja-in dengan penuh kasih sayang, itu menandakan bahwa Emotion Engine telah sempurna.
Evolusi Menjadi Makhluk Sintetik
Pada akhir film, sosok An-na dan Ja-in yang kita lihat bukanlah lagi manusia fisik, melainkan makhluk sintetik yang memiliki kesadaran dan emosi manusia sepenuhnya. Kim Da-mi, yang memerankan An-na, mengaku bahwa peran ini sangat menantang karena ia harus menggambarkan naluri keibuan yang sangat kuat di tengah situasi yang tidak masuk akal.
“Motherhood feels too enormous to capture. I just kept coming back to this idea: loving someone more than yourself. That’s what I held onto,” ungkap Kim Da-mi mengenai pendalaman karakternya.
Melalui perpaduan bencana alam dan kompleksitas teknologi, The Great Flood ingin menyampaikan pesan bahwa esensi dari kemanusiaan bukanlah tubuh fisik, melainkan kemampuan untuk mencintai dan berkorban demi orang lain, bahkan dalam bentuk kode program sekalipun.