Skenario Kiamat The Great Flood Nyata? Penjelasan Pakar Soal Asteroid Cairkan Antartika

Film original terbaru Netflix bertajuk The Great Flood resmi mengudara sejak Jumat (19/12/2025), membawa penonton ke dalam simulasi kiamat saat Seoul tenggelam akibat banjir global.
Namun, di balik ketegangan yang ditampilkan Kim Da-mi dan Park Hae-soo, muncul pertanyaan mendasar dari kalangan penonton dan aktivis lingkungan: mungkinkah skenario asteroid yang mencairkan lapisan es Antartika secara instan dapat terjadi di dunia nyata?
Lihat juga Terungkap, Alasan The Great Flood Ditunda 2 Tahun oleh Netflix Meski Syuting Selesai
Antara Fiksi dan Realitas Ilmiah

Dalam film garapan sutradara Kim Byung-woo ini, bencana dipicu oleh hantaman asteroid yang menyebabkan tsunami raksasa dan mencairkan lapisan es Antartika dengan cepat.
Skenario ini menjadi latar belakang perjuangan Gu An-na (Kim Da-mi), seorang peneliti AI sekaligus ibu tunggal, yang berusaha menyelamatkan putranya, Shin Za-in (Kwon Eun-seong), dari apartemen lantai tiga yang terus terendam air.
Menanggapi premis tersebut, sejumlah pakar geofisika memberikan perspektif teknis. Secara teoritis, dampak asteroid pada wilayah kutub memang akan melepaskan energi panas dalam jumlah masif yang mampu mencairkan es seketika.
Namun, untuk menenggelamkan kota-kota besar hingga ke puncak gedung pencakar langit dalam hitungan jam, diperlukan volume air yang jauh melampaui kapasitas es yang ada di bumi saat ini.
Meski terdapat dramatisasi sinematik, film ini menangkap keresahan nyata mengenai perubahan iklim. Berdasarkan data klimatologi terkini pada akhir 2025, kenaikan permukaan air laut akibat mencairnya lapisan es di Antartika Barat (West Antarctic Ice Sheet) tetap menjadi ancaman eksistensial bagi kota-kota pesisir, walau prosesnya berlangsung secara gradual, bukan instan seperti dalam film.
Eksperimen Genre Kim Byung-woo
Sutradara Kim Byung-woo, yang sebelumnya dikenal lewat The Terror Live (2013) dan Take Point (2018), menegaskan bahwa The Great Flood bukan sekadar film bencana konvensional. Ia mencoba menjahit berbagai genre untuk memberikan pengalaman yang lebih dalam bagi penonton.
“Ini adalah film genre. Bencana dan fiksi ilmiah dijalin menjadi satu. Kedua genre tersebut memiliki keseruannya masing-masing, dan saya harap penonton bisa merasakan semuanya,” kata sutradara Kim Byung-woo.
Film ini menggunakan struktur Giseungjeongyeol khas Korea, di mana narasi sering kali kembali ke momen-momen penting untuk mengungkap lapisan cerita baru.
Pendekatan ini membuat The Great Flood terasa seperti perpaduan antara Interstellar karya Christopher Nolan dan mekanisme perulangan waktu dalam Edge of Tomorrow.
Narasi Berulang dan Teka-teki AI
Di pertengahan durasi, fokus film bergeser dari sekadar bertahan hidup menjadi misteri fiksi ilmiah yang rumit. Gu An-na terungkap bukan hanya seorang ibu yang panik, melainkan peneliti kunci dalam proyek penelitian global yang sangat rahasia. Kehadiran Son Hee-jo (Park Hae-soo), seorang spesialis keamanan yang misterius, menambah dimensi ketegangan saat motif aslinya dalam menyelamatkan An-na mulai dipertanyakan.
Kim Byung-woo mengakui bahwa peralihan narasi ini mungkin akan mengejutkan audiens yang mengharapkan film bencana linear.
“Saya memperkirakan penonton akan sampai pada titik di mana mereka bertanya, ‘Apa yang sebenarnya terjadi?’” ujarnya.
Produksi Intens di Balik Layar
Keberhasilan visual The Great Flood tidak lepas dari proses produksi yang panjang. Syuting film ini berlangsung selama enam bulan, mulai Juli 2022 hingga Januari 2023. Meski sempat mengalami penundaan rilis selama dua tahun, penantian tersebut terbayar melalui kualitas visual yang dipuji saat pemutaran perdana di Festival Film Busan ke-30 pada September 2025.
Beberapa fakta menarik terkait produksi film ini meliputi:
- Debut Netflix Kim Da-mi: Meski serialnya sering merajai platform ini, The Great Flood adalah film orisinal Netflix pertama yang dibintangi Kim Da-mi.
- Pelatihan Bawah Air: Para aktor, termasuk aktor cilik Kwon Eun-seong, menjalani pelatihan ekstensif untuk melakukan adegan di set air yang dibangun khusus oleh tim produksi.
- Komentar Sosial: Film ini menggambarkan kerapuhan kemanusiaan melalui adegan penjarahan dan kekerasan yang terjadi di dalam gedung saat otoritas mulai runtuh.
Melalui The Great Flood, Kim Byung-woo tidak hanya menyuguhkan tontonan apokaliptik yang memukau secara visual, tetapi juga sebuah refleksi tentang pengorbanan dan harapan di tengah kehancuran peradaban. Bagi para pemerhati lingkungan, film ini menjadi pengingat keras bahwa meski skenario asteroid mungkin terdengar jauh, ancaman dari kenaikan air laut adalah realitas yang terus mendekat.